Rabu, 11 Januari 2017

PERBEDAAN ANTARA HAMA DAN PENYAKIT PADA TUMBUHAN





A. PERBEDAAN HAMA DAN PENYAKIT
            Hama dan penyakit, keduanya merupakan penyebab terjadinya kerusakan. Akan tetapi bila dilihat dari penyebab dan hasil kerjanya, maka antara hama dan penyakit memiliki perbedaan.
1.HAMA
            Hama adalah perusak tanaman pada akar, batang, daun atau bagian tanaman lainnya sehingga tanaman tidak dapat tumbuh dengan sempurna atau mati.
Ciri – ciri hama antara lain sebagai berikut :
a)Hama dapat dilihat oleh mata telanjang
b)Umumnya dari golongan hewan (tikus, burung, serangga, ulat dan sebagainya)
c)Hama cenderung merusak bagian tanaman tertentu sehingga tanaman menjadi mati atau tanaman tetap hidup tetapi tidak banyak memberikan hasil.
d)Serangga hama biasanya lebih mudah diatasi karena hama tampak oleh mata atau dapat dilihat secara langsung.

2.PENYAKIT
            Penyakit adalah sesuatu yang menyebabkan gangguan pada tanaman sehingga tanaman tidak bereproduksi atau mati secara perlahan – lahan.
Ciri – ciri penyakit antara lain sebagai berikut :
a)Penyebab penyakit sukar dilihat oleh mata telanjang
b)Penyebab penyakit antara lain mikroorganisme (virus, bakteri, jamur atau cendawan) dan kekurangan zat tertentu dalam tanah.
c)Serangan penyakit umumnya tidak langsung sehingga tanaman mati secara perlahan – lahan.

B. HAMA PADA ORGAN TUMBUHAN
            Hama yang menyerang organ tumbuhan umumnya adalah hewan. Secara garis besar, hama tanaman dikelompokkan menjadi tiga kelompok sebagai berikut :
a. Kelompok hewan menyusui (mamalia),seperti tikus.
b. Kelompok serangga (insekta), seperti belalang.
c. Kelompok burung (aves), seperti burung pipit.




Dibawah ini dijelaskan beberapa contoh hama yang menyerang organ tumbuhan.

1.Hama Penggerek Umbi Kentang
Umbi kentang yang terkena hama penggerak umbi kentang menunjukkan gejala – gejala yakni pada kuit umbi nterdapat kumpulan kotoran ulat berwarna coklat tua. Jika umbi dibelah, didalamnya terdapat alur – alur. Warna daun merah tua dan terdapat jalinan benang yang meliputi ulat.
Hama penggerek disebut Phthorimaea operculella, yakni berupa ulat berwarna kelabu dengan panjang tubuhnya 1 cm. Ulat ini akan tumbuh menjadi ngengat berwarna kelabu dengan sayap berumbai – rumbai.
Pengendalian yang harus dilakukan pada hama tersebut adalah dengan bakteri (disterilkan) sebelum digunakan.

2.Hama Pemakan Daun Kubis
Daun kubis yang terserang hama menunjukan gejala – gejala sebagai berikut. Hama (ulat) memakan daun kubis tanpa epidermisnya (kulit arinya) sehingga daun “berjendela” dan tampak memutih bahkan jika serangan hamanya berat, daun akan tampak berlubang – lubang dan hanya tinggal tulang daunnya saja.
Hama pemakan daun kubis ini disebut Plutella xylostella, atau biasa disebut hama putih dengan ciri – cirinya: ulat berwarna hijau muda, berbulu hitam, kepala kekuningan dengan bercak – bercak gelap, dan ukuran tubuhnya 9 mm.
Cara pengendalian terhadap hama pemakan daun kubis diantaranya sebagai berikut.
a)Melakukan pergiliran tanaman selama 3 – 4 bulan. Langkah ini dilakukan dengan cara menanam tanaman yang bukan sefamili dengan kubis – kubisan pada lahan yang akan ditanami kubis. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memutuskan siklus hama.
b)Secara biologis dengan menggunakan bakteri Bacillus thuringiensis.
c)Secara kimiawi dengan menggunakan insektisida.
d)Secara mekanik dengan melakukan penjebakan pada serangga dewasa. Penjebakan dilakukan dengan menggunakan lampu dan cawan berisi air.
3.Hama Thrips pada cabai.
Cabai yang terkena hama Thrips menunjukkan gejala – gejala, yakni daun cabai yang terserang hama berubah menjadi keriting. Bila serangannya berat, daun mengerut dan lapisannya berkurang, sehingga daun yang baru menyempit. Permukaan bawah daun yang terserang hama berwarna putih keperakan. Buah yang terserang berubah bentuk dan terlihat jaringan seperti kalus berwarna cokelat muda di kulit buah.
Hama ini berupa serangga Thrips sp. dengan ciri – cirinya tubuh berwarna kunimg hingga cokelat kehitaman dan ukuran tubuhnya 1 mm. pengendalian hama Thrips dilakukan secara kimiawi, yaitu dengan melakukan penyemprotan insektisida.

4.Hama pada Bawang putih
Bawang putih yang terkena hama, daunnya berlubang dengan meninggalkan bekas gigitan berwarna putih, atau daun menjadi berselaput tipis dan layu.
Hama pada bawang putih ini berupa ulat Spedoptera exigua berwarna hijau atau cokelat tua dengan garis kekuningan dan ukuran tubuhnya mencapai 25 mm. Pengendalian hama pada bawang putih ini dilakukan dengan menggenangi lahan sebelum ditanami, pembersihan lahan dari gulma, pengendalian secara biologis dengan menggunakan bakteri Baccillus thuringiensis, dan pengendalian secara kimiawi dengan melakukan penyemprotan insektisida.

5.Hama Penggerek Buah Tomat
Buah tomat yang terkena hama penggerak menunjuukkan gejala – gejala, seperti bagian ujung atau dekat ujuna buah berlubang dan didekat lubang terdapat kotoran hama. Jumlah lubangnya bisa lebih dari satu.
Hama pada buah tomat ini berupa ulat Helicoverpa armigera, dengan ciri – ciri: warna tubuh pada ulat dewasa bervariasi dari hijau kekuningan, hijau kecoklatan atau kehitaman. Tubuh berbulu dan ukuran tubuh mencapai 34,5 mm.
Pengendalian hama penggerek buah tomat dilakukan dengan melakukan rotasi tanaman dengan tanaman terhadap hama tersebut. Pengendalian hama juga dapat dilakukan secara biologis dengan menggunakan musuh alaminya yaitu Microptilis manilae untuk kepompong dan ulat, Diadegma argentiopilosa untuk ulat, atau Trichogramma nana untuk telurnya.

6.Hama Penggerek Polong Buncis
Polong buncis yang terserang hama menunjukkan gejala – gejala, yaitu pada polong terdapat lubanggerakan berwarna cokelat tua. Daerah seitar lubang menjadi cokelat kehitaman. Jika polong dibuka, akan tampak ulat (hama)dan kotorannya.
Hama pada polong buncis ini berupa ulat Etiella zinckenella. Larva muda berwarna hijau pucat, kemudian berubah menjadi kemerahan, kepala berwarna hitam, dan tubuh berukuran 15 mm.
Pengendalian hama penggerek polong buncis dilakukan dengan membuang tanaman orok – orok disekitar tanaman buncis tersebut atau dengan meakukan penyemprotan insektisida.
7.Hama Penggerek Buah Mangga
Buah mangga yang terserang hama menunjukkan gejala –gejala, yaitu buah berlubang – lubang dan sekitarnya terdapat kotoran yang meleleh dari dalam. Lubang tersebut menembus sampai ke biji. Jika buah tersebut dibelah, bagian dalamnya sudah rusak dan busuk.
Hama pada buah mangga ada dua jenis, yaitu:
a.Ulat dengan warna tubuh berselang – selang merah dan putih, panjangnya kurang lebih 2 cm, besarnya hampir seukuran pangkal lidi dan merupakan larva dari kupu – kupu Noorda albizonalia.
b.Ulat dengan warna tubuh cokelat kehitaman, panjangnya kira – kira 1 cm, beasrnya menyamai lidi yang kecil, dan merupakan larva dari kupu – kupu Philotroctis eutraphera.
Penanggulangan hama penggerek pada buah mangga dilakukan dengan cara menyemprotkan insektisida pada buah mangga yang masih muda atau dengan membungkus buah muda satu persatu sebelum kupu – kupu Noorda albizonalia dan Philotroctis eutraphera sempat bertelur pada buah mangga tersebut.


C. PENYAKIT PADA ORGAN TUMBUHAN
Penyakit pada tumbuhan umumnya disebabkan oleh mikroorganisme. Mikroorganisme tersebut bias berupa virus, bakteri, cendawan, atau jamur. Penyebaran penyakit dapat terjadi dengan perantara angin dan hewan. Dibawah ini akan dijelaskan beberapa contoh penyakit yang menyerang organ tumbuhan.

1.Penyakit Hawar Daun Kentang.
Daun kentang yang terkena penyakit ini menunjukkan gejala – gejala yaitu bercak nekrosis di tepi – tepi daun, terutama pada suhu rendah dan kelembaban serta curah hujan tinggi. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Phytophthora infestans. Pengendalian terhadap penyakit tersebut adalah dengan menenam kentang yang tahan penyakit, menggunakan bibit kentang yang sehat, dan melakukan penyemprotan dengan fungisida.

2.Penyakit Busuk Basah Kubis
Kubis yang terkena penyakit busuk basah menunjukkan gejala – gejala, yaitu pada daun terdapat bercak kebasahan yang bentuknya tidak teratur. Bercak tersebut kemudian melebar dan melekuk, berwarna cokelat tua kehitaman. Jika kelembaban lingkungan tinggi, bercak tampak basah dan ada butir – butir cairan. Infeksi bakteri sekunder mengakibatkan tanaman mengeluarkan bau busuk yang khas.
Penyakit busuk basah disebabkan oleh bakteri Erwinia carotovora pv.Carotovora. Pengendalian terhadap penyakit tersebut adalah dengan menjaga kebersihan kebun dari sisa –sisa tanaman yang sakit, menjaga kelembaban tidak terlalu tinggi dengan cara menanam tanaman kubis dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat, hasil panen dicuci dengan air yang mengandung klorin atau borax 7,5%, dan disimpan di gudang yang mempunyai ventilasi cukup.

3.Penyakit Akar Gada Kubis
Kubis yang terkena penyakit akar gada menunjukkan gejala – gejala, yaitu akarnya mengalami reaksi pembelahan dan pembesaran sel. Kemudian terbentuk bintil atau kelenjar yang tidak teratur, bintil – bintil tersebut bersatu menjadi bengkakan memanjang seperti gada. Akhirnya daun menjadi hijau kelabu dan lebih cepat layu karena jaringan pengangkutnya rusak. Bila lingkungan basah, akar terserang infeksi sekunder sehingga akar busuk sama sekali. Penyakit akar gada disebabkan oleh jamur Plasmodiophora brassica. Pengendalian terhadap penyakit tersebut dapat dilakukan dengan cara mencegah masuknya jamur penyebab penyakit ke lahan – lahan yang bebas dari serangan jamur, pembibitan dilahan bebas pathogen, dan pengapuran. Pengapuran dilakukan jika pada lahan tersebut tidak akan ditanami kentang.

4.Penyakit Layu Cabai
Cabai yang terkena penyakit layu menunjukkan gejala – gejala, yaitu daun muda layu diikuti dengan menguningnya daun – daun tua. Jika pangkal batang dipotong dan ditekan, maka dari lingkungan berkas pembuluh akan keluar lender berwarna keabu – abuan.
Penyakit layu cabai disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum. Pengendalian terhadap penyakit tersebut dapat dilakukan dengan mengurangi populasi bakteri dalam tanah dengan cara menutup tanah dengan plastic transparan selama satu bulan, melakukan rotasi tanaman, pengaturan perairan, dan secara kimia dengan menggunakan bakterisida serta sterilisasi tanah.

5.Penyakit Bercak Ungu pada Bawang Putih
Bawang putih yang terkena penyakit bercak ungu menunjukkan gejala – gejala, yaitu pada daunnya tampak bercak kecil, melekuk berwarna putih hingga kelabu. Jika ukurannya membesar, bercak terlihat “bercincin – cincin” dan warnanya agak keunguan. Tepi bercak berwarna kemerahan atau keunguan, dikelilingi oleh warna kuning yang bisa meluas ke atas atau ke bawah.
Penyakit bercak ungu pada bawang putih disebabkan oleh jamur Alternaria porri. Pengendalian terhadap penyakit tersebut dilakukan dengan cara menanam bawang putih pada lahan yang mempunyai saluran air baik, melakukan rotasi tanaman, dan melakukan penyemprotan fungisida.

6.Penyakit Busuk Daun Bawang Merah
Daun bawang merak yang terkena penyakit busuk daun menunjukkan gejala –gejala, yaitu didekat ujung daun timbul bercak hijau pucat. Jika kondisi lingkungan lembab, dipermukaan daun berkembang jamur berwarna putih ungu. Daun kemudian menguning, layu, dan mongering. Daun yang telah mati berwarna putih dan banyak terdapat jamur hitam.
Penyakit busuk daun disebabkan oleh jamur Perenospora destructor. Pengendalian terhadap penyakit tersebut dapat dilakukan dengan cara menggunakan benih yang sehat atau bebas dari penyakit, membakar daun – daun sisa panen, dan menyemprotkan fungisida.
7.Penyakit Bercak Daun dan Ranting Asparagus
Daun dan ranting Asparagus yang terkena penyakit bercak daun menunjukkan gejala – gejala, yaitu terdapat bercak yang memanjang berwarna cokelat sampai kelabu, dengan tepi lebar cokelat kemerahan pada daundan rantingnya.
Penyakit bercak daun disebabkan oleh jamur Cercospora asparagi. Pengendalian terhadap penyakit tersebut dilakukan dengan cara menyemprotkan fungisida kontak.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Gangguan terhadap tanaman selama proses tumbuhnya di lapangan dapat di sebabkan oleh berbagai macam hal, dapat berupa makhluk hidup maupun bencana alam. Gangguan yang disebabkan oleh makluk hidup dinamakan gangguan biologis sedangkan yang disebabkan yang lanilla dinamakan gangguan mekanis.
Berdasarkan penyebab gangguan biologis dibedakan atas hama, penyakit, dan gangguan oleh gulma. Di bawah ini akan di jelaskan secara terperinci mengenai hama, penyakit dan gulma yang menyerang tanaman.
1.        I. GULMA
1.1 Definisi Gulma
·         Gulma merupakan tumbuhan yang hidup pada suatu tempat dan suatu waktu yang tidak dikehendaki.
·         Gulma merupakan tumbuhan yang kehadirannya tidak di inginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa di capai oleh tanaman produksi.
·         Gulma merupakan tanaman yang berpotensi merugikan dan mengganggu tanaman. Gulma tersebut biasanya bertindak sebagai kompetitor dalam memperebutkan unsur hara di dalam tanah.
1.2 Prosedur Pengendalian Gulma
Prosedur ini dapat di golongkan menjadi 6 kategori yaitu :
1.        Pengendalian Secara Pencegahan ( Preventif )
Pengendalian secara pencegahan ditujukan untuk mencegah atau menghalangi perkembangbiakan dan penyebaran bahan gulma ( biji, rimpang, batang ) dari suatu tempat ke tempat yang lain.
1.        Pengendalian Secara Mekanik
Pengendalian secara mekanik merupakan usaha menekan pertumbuhan gulma dengan cara merusak sebagian atau seluruh gulma, sehingga gulma tersebut mati. Contohnya dengan menggunakan alat-alat bantu mulai dari alat sederhana hingga mekanisasi. Alat-alat sederhana dapai berupa kored, cangkul, sabit, dan garu yang di tarik ternak. Alat semi mekanis hádala mesin-mesin sederhana seperti mower dan cultivator. Sedangkan alat mekanisasi berupa tractor yang dilengkapi rotovator ( powered rotary cultivation ) dan weed cruscher.
1.        Pengendalian Secara Biologis
Pengendalian gulma secara biologis pada dasarnya adalah pengendalian dengan menggunakan organismo hidup, baik berupa binatang ternak, ikan maupun tumbuh-tumbuhan. Organismo pengendalian gulma harus bersifat monofag, aman, mempunyai daya adaptasi luas, aktivitas, dan penyebaraanya dapat di atur atau di kuasai. Gulma yang dapat dikendalikan secara biologis ( hayati ) harus mempunyai 2 sifat penting yaitu spesies gulmanya menempati lahan yang luas dan gulma tersebut hidup perenial, sehingga musuh-musuh alami dapat hidup sepanjang tahun.
1.        Pengendalian Secara Kultur Teknis
Pengendalian ini didasarkan pada segi ekologi yaitu berusaha menciptakan kondisi lingkungan yang sesuai dengan tanaman budidaya, sehingga dapat tumbuh dengan baik dan mampu bersaing dengan gulma.
1.        Pengendalian Secara Kimiawi
Pengendalian kimiawi dilakukan dengan menggunakan senyawa kimia ( herbisida ) untuk menghambat atau mematikan pertumbuhan gulma. Selain herbisida dapat mematikan gulma, juga dapat membunuh organismo lain sehingga penggunaannya harus selektif dan dan menjadi alternatif terakhir.
1.        Pengendalian Secara Terpadu
Merupakan pengendalian dengan mempraktekkan beberapa teknik pengendalian yang serráis untuk menekan pertumbuhan dan mematikan gulma sampai batas yang secara ekonomi tidak merugikan. Pengendalian secara terpadu harus mempertimbangkan keadaan lingkungan dan faktor ekonomi.
1.        II. PENYAKIT
2.1  Definisi Penyakit
·         Penyakit tanaman merupakan sesuatu yang menyimpang dari keadaan normal, cukup jelas menimbulkan gejala yang dapat di lihat, menurunkan koalitas atau nilai ekonomis, dan merupakan akibat interaksi yang cukup lama.
·         Penyakit tanaman dalam arti luas seperti yang dikemukakan Whetzel  (1935) vide robert dan Boothroyd (1972) adalah suatu aktifitas fisiologis yang merugikan akibat gangguan terus-menerus oleh faktor penyebab primer dan dinyatakan melalui aktifitas sel yang abnormal serta ditunjukkan dalam keadaan patologis yang khas atau disebut “gejala”.
2.2  Kerugian Akibat Serangan Penyakit
Macam kerugian akibat serangan penyakit pada tanaman pertanian, prinsipnya hádala sebagai berikut :
1.        Kerugian secara kuantiítas, yaitu :
1.        Timbulnya pembusukan pada bunga sehingga tidak menghasilkan buah.
2.        Matinya sel-sel daun atau busuknya jaringan daun sehingga tidak dapat melakukan fotosíntesis secara maksimal yang akhirnya dapat mempengaruhi terhambatnya pembentukan bunga atau buah.
3.        Banyaknya tanaman yang mati, sehingga mengurangi populasi tanaman dan hasil panen per satuan luas.
2.        Kerugian secara kualitas, misalnya :
1.        Timbulnya warna lain pada macam produksi (daun, kuncup, bunga, dan buah ).
2.        Timbulnya pembusukan.
3.        Timbulnya perubahan rasa.
4.        Adanya bercak-bercak.
5.        Bentuk macam produksi yang tidak normal.
2.3  Sifat-Sifat Penyakit
Sifat penyakit tanaman dibedakan dalam 2 macam yaitu penyakit menular dan tidak menular. Sifat-sifat tersebut ditentukan oleh faktor-faktor penyebab penyakit, yang terdiri atas :
1.        Faktor Biotik
Faktor biotik merupakan organismo yang bersifat parasit dan dapat menular. Organisme penyebab penyakit ini umumnya berukuran amat kecil sehingga tidak mudah dilihat dengan mata kepala telanjang untuk melihatnya perlu bantuan mikroskop. Namur, ada di antaranya penyebab penyakit yang bisa dilihat secara langsung tanpa menggunakan alat seperti cendawan yang berukuran besar dan tumbuhan tingkat tinggi.
1.        Faktor Abiotik
Faktor abiotik merupakan factor yang disebabkan oleh lingkungan dan sifatnya tidak menular. Suhu tinggi menyebabkan gejala tertentu pada beberapa jenis tanamanmisalnya gejala warna kuning (klorosis) daun. Sebaliknya, suhu rendah di bawah 0º C menyebabkan tanaman rusak (frost). Sinar matahari terlalu terik dapat mengakibatkan terbakarnya daun atau buah tanaman tertentu. Gejala kekurangan air atau kekeringan yang bersifat kronis mengakibatkan pertumbuhan tanaman merana, warna daun kusam, dan laya pada siang hari. Gejala tanaman akibat pengaruh lingkungan yang kurang menguntungkan bagi tanaman siifatnya tidak menular.
2.4  Penyebaran Penyakit
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan (penyebaran) penyakit, antara lain hádala sebagai berikut :
1.        Iklim
Unsur-unsur iklim yang berpengaruh besar terhadap perkembangan dan penyebaran penyakit hádala sebagai berikut :
1.        Suhu
Untuk berkembang dengan pesat, setiap patogen menghendaki suhu tertentu.misalnya : Fusarium oxysporum 21º C-33º C. Bila suhu lebih tinggi atau lebih rendah daripada kisaran suhu tersebut, perkembangan dan penyebaran pathogen akan terhambat, bahkan petogen bisa mati.
1.        Kelembapan
Hampir sebagian besar penyebab penyakit tanaman, terutama golongan cendawan, akan berkembang dengan pesat pada kelembapan tinggi misalnya Phytopthora palmivora.
1.        Cahaya
Factor cahaya yang paling utama adalah sinar matahari. Sinar matahari memiliki hubungan erat dengan suhu dan kelembapan. Akibat cahaya matahari terik, suhu lingkungan tempat tanaman tumbuh akan naik. Bila pada lingkungan tersebut terdapat banyak air, maka akan terjadi penguapan sehingga lingkungan menjadi lembap. Kondisi seperti ini Amat di senangi oleh patogen untuk melakukan aktivitas hidupnya, termasuk berkembangbiak.
1.        Angin
Tubuh patogen Amat ringan sehingga bila ada angin sedikit saja akan mudah lepas dan terbawa terbang. Semakin angin bertiup kencang, maka penyebaran patogen semakin jauh dan dalam waktu relatif singkat penyakit cepat meluas.
1.        Curah Hujan
Tumbukan air hujan ke permukaan tanah akan menimbulkan cipratan-cipratan. Patogen yang ada pada tanah ikut terlempar, lalu menempel pada bagian yang lunak, terutama pada tanaman muda atau tanaman semusim kemudian memparasiti tanaman tersebut. Banyak patogen yang menghendaki curah hujan tinggi, seperti Phytophthora palmivora.
1.        Tanah
Sifat-sifat tanah dapat mempengaruhi perkembangan (penyebaran) penyakit tanaman misalnya :
1.        PH Tanah
Tanah yang mempunyai PH rendah di sukai oleh sebagian besar cendawan. Pada tanah masa, cendawan berkembang pesat sehingga banyak menimbulkan kerugian.
1.        Struktur Tanah
Pada tanah berstruktur pejal akar tanaman menjadi lemah karena aerasi dan drainase jelek serta tanah memadat. Pada kondisi tanah seperti ini cendawan mudah menginfeksi dan memparasiti tanaman.
1.        Kelembapan tanah
Tanah yang lembap mempermudah patogen menginfeksi bagian tanaman di dalam tanah.
1.        Tanaman Inang
Berbagai jenis tumbuhan ada yang merupakan tanaman inang bagi patogen-patogen tertentu. Ada patogen yang hanya punya beberapa tanaman inang, ada juga yang punya banyak jenis tanaman inang. Semakin banyak tanaman yang dapat dijadikan tanaman inang, semakin leluasa patogen bertahan, menyebar, dan berkembang biak.
1.        Faktor Mekanis
1.        Teknik Bercocok Tanam
Teknik bercocok tanam yang baik mampu menghambat perkembangan penyakit tanaman. Pengolahan tanah dan pembuatan parit yang baik dan teratur akan menyebabkan struktur, aerasi, dan drainase tanah menjadi baik tanaman tumbuh sehat, kuat, mampu bersaing dalam pertumbuhan serta lebih tahan terhadap gangguan luar. Perlakuan benih yang baik, pemupukan yang berimbang dan penerapan PHT yang baik akan menekan perkembangan patogen.
1.        Sanitasi
Sanitasi (pembersihan kebun) tidak memberi kesempatan pada patogen untuk memanfaatkan lingkungan tersebut ataupun berkembang biak.
1.        Irigasi
Pembuatan irigasi yang kurang baik, pemberian air yang tidak teratur  akan menimbulkan dengan genangan-genangan air dan kelembapan yang tinggi. Kondisi ini sangat di sukai oleh patogen. Selain itu air irigasi yang telah tercemar oleh patogen akan menjadi penyebeb peluasan penyakit.
Timbulnya peledakan (outbreak) penyakit secara luas tergantung kepada :
1.        Banyaknya tanaman yang peka (rentan)
2.        Banyaknya patogen
1.        Keadaan lingkungan yang sesuai untuk patogen dalam jangka waktu yang lama.
Ketiga faktor di atas di kenal dengan triangal deases.
2.5   Medium Penyebaran Penyakit
Patogen dapat berpindah dan menyebar ke tanaman atau tempat lain dengan bantuan médium penyebaran. Médium penyebaran itu, antara lain :
1.        Air
Spora cendawan atau koloni bakteri berukuran amat kecil sehingga bila jatuh atau tersapuh oleh aliran air akan mudah hanyut ke bawa ke tempat lain.
1.        Angin
Tiupan angin mempengaruhi cepat lambatnya penyebaran penyakit.
1.        Serangga dan Binatang Vektor
Penyebaran virus dari satu tanaman ke tanaman lain di bantu melalui perantara serangga atau binatang lain (vektor) yang menginfeksi atau yang memakan tanaman sakit. Di samping itu vektor dapat menyebarkan cendawan dan bakteri dari tanaman sakit ke tanaman lain.
1.        Manusia
Pada saat melakukan memelihara tanaman patogen dapat menempel pada tubuh pakaian, atau alat-alat pertanian. Oleh karena itu manusia dapat berperan sebagai médium penyebaran penyakit.
2.6  Pengendalian Penyakit Tanaman
1.        Cara Pengendalian
1.        Secara Fisik
Merupakan pengendalian paling sederhana dan mudah pelaksanaannya tetapi perlu di landasi pengetahuan yang menyeluruh tentang ekologi patogen sebab setiap jenis patogen punya batas toleransi terhadap factor lingkungan fisik terutama suhu dan kelembapan. Cara pengendalian fisik misal :
·         Perlakuan panas yaitu perendaman benih/bibit dengan air panas.
·         Pembakaran sisa-sisa tanaman atau bagian tanaman yang sakit.
·         Penggunaan penghalang (barrier) misalnya pemblongsongan buah.
1.        Cara Kultur Teknis
Pengendalian ini bertujuan mengelola lingkungan tanaman agar tidak atau kurang cocok bagi kehidupan bagi perkembangbiakan patogen sehingga dapat mengurangi laju peningkatan populasi patogen dan kerusakan tanaman. Pengendalian ini bersifat preventif. Pengendalian ini tergolong murah, tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, dan mudah di kerjakan petani. Macam pengendaliannya :
·         Sanitasi, membersihkan lahan dari sisa tanaman yang masih hidup, yang sudah mati, jenis tanaman lain yang dapat menjadi inang pengganti.
·         Pengolahan tanah yang baik
·         Penggunaan benih unggul bebas penyakit
·         Pergiliran tanaman dan pola tanam
·         Penanaman serempak
·         Cara bercocok tanam seperti pengaturan jarak tanam, pemangkasan pohon, membersihkan gulma dan memperbaiki sirkulasi udara.
·         Pengembangan tanaman resisten atau tahan.
1.        Cara Biologis
Usaha penanggulangan secara biologis menggunakan jasad lain yang ditujukan terutama untuk mengurangi aktifitas patogen. Efek ini bisa berupa biocidal ( jasad yang satu mematikan jasad yang lain ) atau biostatic (jasad yang satu menghambat pertumbuhan jasad yang lain ). Misal, Trichoderma lignorum dapat memarasiti cendawan.
1.        Cara Kimia
Pengendalian dilakukan dengan menggunakan bahan kimia yang disebut “pestisida”. Pesticida yang digunakan tergantung pada jenis patogen yang menyerang. Bila patogen berasal dari golongan bakteri digunakan bakterisida (agrept, agrimycin, bacticin, tetracycline). Bila patogen dari golongan cendawan digunakan fungisida ( Dithane M-45 80 P, Benlate, Antracol 70 WP, dll.). untuk mengendalikan serangga digunakan insektisida ( Dipel WP, Orthene 75 SP, Hopcin 59 EC, dll. ).
1.        Karantina Tumbuhan
Merupakan upaya pencegahan patogen dengan jalan menghentikan pengiriman atau pemasukan secara resmi barang-barang yang diduga membawa patogen pontesial yang Amat berbahaya bagi daerah pengimpornya.
1.        Prinsip-Prinsip dan Pelaksanaan Pengendalian Penyakit




Tindakanpengendalian penyakit bertujuan mencegah berlangsungnya siklus hidup parasit dan patogen. Setiap tindakan pengendalian penyakit harus menunjukkan prinsip-prinsip dasar, dan setiap prinsip dasar mempengaruhi inokulum awal atau kecepatan infeksi. Selanjutnya, tindakan pengendalian penyakit ditujukan langsung kepada penyebab penyakit. Oleh karena itu, dasar pendekatan dalam usaha mencegah timbulnya epidemik adalah mereduksi inokulum awal dan memperlambat kecepatan infeksi, mereduksi atau memperlambat inokulum awal dilakukan dengan cara :
1.        Eksklusif, yaitu membebaskan semua patogen pada benih dengan cara memberikan perlakuan benih.
2.        Eradikatif, yaitu menggunakan pestisida yang dapat  membunuh spora cendawan yang mengkotaminasi permukaan benih
3.        Terapi (terapeutik), yakni menggunakan pesticida untuk membunuh bakteri atau cendawan yang menyerang embrio, kotiledon, atau endosperm di bawah kulit.
4.        Resistensi vertical, yakni dengan menanam varietas tanaman yang mempunyai kekebalan lapang.
Mereduksi (memperlambat) kecepatan infeksi penyakit pada tanaman dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
1.        Proteksi, yakni menggunakan pesticida untuk mencegah masuknya cendawan tular tanah (soil borne) masuk dalam batang semai.
2.        Penghindaran (avoidance), yakni dengan menghindari penularan penyakit misalnya menanam tanaman yang letaknya di bawah angin agar tidak tertulari penyakit-penyakit yang terbawa oleh angin, menanam tanaman penghadang (barrier) atau tanaman perangkap (trap crop) hama yang berperan sebagai vektor penyakit.
3.        Resistensi horizontal, yakni dengan menanam varietas tanaman yang mempunyai ketahanan lapang.
Masuknya (penetrasi) parasit kke dalam tanaman yang sehat berbeda-beda. Cendawan membutuhkan waaktu yang berjam-jam untuk melakuakan penetrasi ke dalam tanaman sehat. Bakteri dan nematoda memmerlukan luka mekanis untuk melakukan penetrasi. Di samping itu, faktor lingkungan terutama air, suhu, dan unsur (hara nutrisi), Amat mempengaruhi inokulasi dan kolonisasi penyakit. Lingkungan yang tidak mendukung penyakit sehingga memperlambat inokulum awal atau mengurangi kecepatan infeksi.
III HAMA
Yang dimaksud dengan hama adalah semua binatang yang merugikan tanaman, terutama yang berguna dan dibudidayakan manusia; apabila tidak merugikan tanaman yang berguna dan dibudidayakan manusia dengan sendirinya kita tidak menyebutnya sebagai hama.
Apabila petani mengetahui cara hidup binatang-binatang yang merugikan dengan sendirinya akan mudah dalam mengendalikannya atau dapat melindungi tanaman dari serangan musuh-musuh tanaman (proteksi tanaman).
Pengendalian hama yang baik itu sebenarnya yang dilakukan secara biologis dengan menggunakan predator atau parasit hama, karena dengan cara ini hanya binatang yang menjadi musuh tanaman yang akan mati. Oleh karena itu perlu dipelajari ekobiologis dari binatang perusak tersebut (hama).
·         TEKNIK PENGENDALIAN HAMA
a)      Pengendalian secara mekanik
Pengendalian mekanik mencakup usaha untuk menghilangkan secara langsung hama serangga yang menyerang tanaman. Pengendalian mekanis ini biasanya bersifat manual.
b)      Pengendalian secara fisik
Pengendalian ini dilakukan dengan cara mengatur faktor-faktor fisik yang dapat mempengaruhi perkembangan hama, sehingga memberi kondisi tertentu yang menyebabkan hama sukar untuk hidup.
Pengolahan tanah dan pengairan dapat pula dimasukkan dalam pengendalian fisik; karena cara-cara tersebut dapat menyebabkan kondisi tertentu yang tidak cocok bagi pertumbuhan serangga.
c)      Pengendalian hayati
Pengendalian hayati adalah pengendalian hama dengan menggunakan jenis organisme hidup lain (predator, parasitoid, pathogen) yang mampu menyerang hama.
Dua jenis organisme yang digunakan untuk pengendalian hayati terhadap serangga dan tunggau adalah parasit dan predator. Parasit selalu berukuran lebih kecil dari organisme yang dikendalikan oleh (host), dan parasit ini selama atau sebagian waktu dalam siklus hidupnya berada di dalam atau menempel pada inang. Umumnya parsit merusak tubuh inang selama peerkembangannya. Beberapa jenis parasit dari anggota tabuhan (Hymenoptera), meletakkan telurnya didalam tubuh inang dan setelah dewasa serangga ini akan meninggalkan inang dan mencari inang baru untuk meletakkan telurnya.
Sebaliknya predator mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar sari serangga yang dikendalikan (prey), dan sifat predator secara aktif mencari mangsanya, kemudian memakan atau mengisap cairan tubuh mangsa sampai mati.
Selain menggunakan parasit dan predator, untuk menekan populasi serangga hama dapat pula memanfaatkan beberapa pathogen penyebab penyakit pada serangga. Seperti halnya dengan binatang lain, serangga bersifat rentan terhadap penyakit yang disebabkan oleh bakteri, cendawan, virus dan protozoa. Pada kondisi lingkungan yang cocok beberapa jenis penyakit akan menajdi wabah epidemis. Penyakit tersebut secara drastis mampu menekan populasi hama hanya dalam beberapa hari.
Metode pengelolaan agen pengendali biologi terhadap serangga hama meliputi :
1.        Introduksi, yakni upaya mendatangkan musuh alami dari luar (exotic) ke wilayah yang baru (ada barier ekologi).
2.        Konservasi, yakni upaya pelestarian keberadaan musuh alami di suatu wilayah dengan antara lain melalui pengelolaan habitat.
3.        Augmentasi, parasit dan predator lokal yang telah ada diperbanyak secara massal pada kondisi yang terkontrol di laboratorium sehingga jumlah agensia sangat banyak, sehingga dapat dilepas ke lapangan dalam bentuk pelepasan inundative.
d)      Pengendalian dengan varietas tahan
Mekanisme ketahanan tersebut secara kasar dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu :
1.        Toleransi
Tanaman yang memiliki kemampuan melawan serangan serangga dan mampu hidup terus serta tetap mampu berproduksi, dapat dikatakan sebagai tanaman yang toleran terhadap hama.
1.        Antibiosis
Tanaman-tanaman yang mengandung toksin (racun) biasanya memberi pengaruh yang kurang baik terhadap serangga. Tanaman yang demikian dikatakan bersifat antibiosis. Tanaman ini akan mempengaruhi banyaknya bagian tanaman yang dimakan hama, dapat menurutkan kemampuan berkembang biak dari hama dan memperbesar kematian serangga.
1.        Non prefens
Jenis tanaman tertentu mempunyai sifat fisik dan khemis yang tidak disukai serangga. Sifat-sifat tersebut dapat berupa tekstur, warna, aroma atau rasa dan banyaknya rambut sehingga menyulitkan serangga untuk meletakkan telur, makan atau berlindung. Pada satu spesies tanaman dapat pula terjadi bahwa satu tanaman kurang dapat terserang serangga dibanding yang lain. Hal ini disebabkan adanya perbedaan sifat yang ada sehingga dapat lebih menarik lagi bagi serangga untuk memakan atau meletakkan telur.
e)      Pengendalian hama dengan cara bercocok tanam
Pada dasarnya pengendalian ini merupakan pengendalian yang belerja secara alamiah, karena sebenarnya tidak dilakukan pembunuhan terhadap hama secara langsung. Pengendalian ini merupakan usaha untuk mengubah lingkungan hama dari keadaan yang cocok menjadi sebaliknya.
f)       Pengendalian hama dengan sanitasi dan eradikasi
Pada pengendalian dengan cara sanitasi eradikasi dititikberatkan pada kebersihan lingkungan di sekitar pertanaman. Kebersihan lingkungan tidak hanya terbatas di sawah yang ada tanamannya, namun pada saat bero dianjurkan pula membersihkan semak-semak atau turiang-turiang yang ada. Pada musim kemarau sawah yang belum ditanami agar dilakukan pengolahan tanah terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk membunuh serangga-serangga yang hidup di dalam tanah, memberikan pengudaraan (aerasi), dan membunuh rerumputan yang mungkin merupakan inang pengganti suatu hama tertentu.
Cara melakukan eradikasi adalah dengan membabat tanaman yang terserang hama, kemudian membakar atau membenamkan ke dalam tanah.
g)       Pengendalian kimiawi
Bahan kimia akan digunakan untuk mengendalikan hama bilamana pengendalian lain yang telah diuarikan lebih dahulu tidak mampu menurunkan populasi hama yang sedang menyerang tanaman.
Kelompok utama pestisida yang digunakan untuk mengendalikan serangga hama dengan tunggau adalah insektisida, akarisida dan fumigan, sedang jenis pestisida yang lain diberi nama masing-masing sesuai dengan hama sasarannya. Dengan demikian penggolongan pestisida berdasar jasad sasaran dibagi menjadi :
a.     Insektisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa serangga. Contoh : Bassa 50 EC Kiltop 50 EC dan lain-lain.
b.    Nematisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa cacing-cacing parasit yang biasa menyerang akar tanaman. Contoh : Furadan 3 G.
c.     Rodentisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas binatang-binatang mengerat, seperti misalnya tupai, tikus. Contoh : Klerat RM, Racumin, Caumatatralyl, Bromodoiline dan lain-lain.
d.    Herbisida : adalah pestisida yang digunakan untuk mengendalikan gulam (tanaman pengganggu). Contoh : Ronstar ODS 5/5 Saturn D.
e.    Fungisida : digunakan untuk memberantas jasad yang berupa cendawan (jamur). Contoh : Rabcide 50 WP, Kasumin 20 AB, Fujiwan 400 EC, Daconil 75 WP, Dalsene MX 2000.
f.       Akarisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan jasad pengganggu yang berupa tunggau. Contoh : Mitac 200 EC, Petracrex 300 EC.
g.    Bakterisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan penykit tanaman yang disebabkan oleh bakteri. Contoh : Ffenazin-5-oksida (Staplex 10 WP).
Menurut sifat kecepatan meracun, pestisida digolongkan menjadi :
1.    Racun kronis : yaitu racun yang bekerjanya sangat lambat sehingga untuk mematikan hama membutuhkan waktu yang sangat lama. Contoh : racun tikus Klerat RMB.
2.    Racun akut : adalah racun yang bekerjanya sangat cepat sehingga kematian serangga dapat segera diketahui setelah racun tersebut mengenai tubuhnya. Contoh : Bassa 50 EC, Kiltop 50 EC, Baycarb 50 EC dan lain-lain.