HAMA DAN PENYAKIT PADA TUMBUHAN
Tumbuhan tidak selamanya bisa hidup
tanpa gangguan. Kadang tumbuhan mengalami gangguan oleh binatang atau organisme
kecil (virus, bakteri, atau jamur). Hewan dapat disebut hama karena mereka
mengganggu tumbuhan dengan memakannya. Belalang, kumbang, ulat, wereng, tikus,
walang sangit merupakan beberapa contoh binatang yang sering menjadi hama
tanaman.
Gangguan terhadap tumbuhan yang
disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur disebut penyakit. Tidak seperti hama,
penyakit tidak memakan tumbuhan, tetapi mereka merusak tumbuhan dengan
mengganggu proses – proses dalam tubuh tumbuhan sehingga mematikan tumbuhan.
Oleh karena itu, tumbuhan yang terserang penyakit, umumnya, bagian tubuhnya
utuh. Akan tetapi, aktivitas hidupnya terganggu dan dapat menyebabkan kematian.
Untuk membasmi hama dan penyakit, sering kali manusia menggunakan oat – obatan
anti hama. Pestisida yang digunakan untuk membasmi serangga disebut
insektisida. Adapun pestisida yang digunakan untuk membasmi jamur disebut
fungsida.
Pembasmi hama dan penyakit
menggunakan pestisida dan obat harus secara hati – hati dan tepat guna.
Pengunaan pertisida yang berlebihan dan tidak tepat justru dapat menimbulkan
bahaya yang lebih besat. Hal itu disebabkan karena pestisida dapat menimbulkan
kekebalan pada hama dan penyakit. Oleh karena itu pengguna obat – obatan anti
hama dan penyakit hendaknya diusahakan seminimal dan sebijak mungkin.
Secara alamiah, sesungguhnya hama
mempunyai musuh yang dapat mengendalikannya. Namun, karena ulah manusia, sering
kali musuh alamiah hama hilang. Akibat hama tersebut merajalela. Salah satu
contoh kasus yang sering terjadi adalah hama tikus. Sesungguhnya, secara
ilmiah, tikus mempunyai musuh yang memamngsanya. Musuh alami tikus ini dapat
mengendalikan jumlah populasi tikus. Musuhnya tikus itu ialah Ular, Burung
hantu, dan elang. Sayangnya binatang – binatang tersebut ditangkapi oleh
manusia sehingga tikus tidak lagi memiliki pemangsa alami. Akibatnya, jumlah
tikus menjadi sangat banyak dan menjadi hama pertanian.
A. Hama
Hama tumbuhan adalah organisme
yang menyerang tumbuhan sehingga pertumbuhan dan perkemabanganya terganggu.
Hama yang menyerang tumbuhan antara lain tikus, walang sangit, wereng, tungau,
dan ulat.
1. Tikus
Tikus merupakan hama yang sering
kali membuat pusing para petani. Hal ini diesbabkan tikus sulit dikendalikan
karena memiliki daya adaptasi, mobilitas, dan kemampuan untuk berkembang biak
yang sangat tinggi. Masa reproduksi yang relative singkat menyebabkan tikus
cepat bertambah banyak. Potensi perkembangbiakan tikus sangat tergantung dari
makanan yang tersedia. Tikus sangat aktif di malam hari.
Tikus menyerang berbagai tumbuhan.
Bagian tumbuhan yang disarang tidak hanya biji – bijian tetapi juga batang
tumbuhan muda. Yang membuat para tikus kuat memakan biji – bijian sehingga
merugikan para petani adalah gigi serinya yang kuat dan tajam, sehingga tikus
mudah untuk memakan biji – bijian. Tikus membuat lubang – lubang pada pematang
sawah dan sering berlindung di semak – semak. Apabila keadaan sawah itu rusak
maka berarti sawah tersebut diserang tikus.
Untuk mengatasi serangan hama tikus,
dapat dilakukan cara – cara sebagai berikut :
a.
Membongkar dan menutup lubang tempat bersembunyi para tikus dan menangkap
tikusnya.
b. Menggunakan
musuh alami tikus, yaitu ular.
c. Menanam
tanaman secara bersamaan agar dapat menuai dalam waktu yang bersamaan pula
sehingga tidak ada kesempatan bigi tikus untuk mendapatkan makanan setelah
tanaman dipanen.
d. Menggunakan rodentisida (pembasmi
tikus) atau dengan memasang umpan beracun, yaitu irisan ubi jalar atau singkong
yang telah direndam sebelumnya dengan fosforus. Peracunan ini sebaiknya
dilakukna sebelum tanaman padi berbunga dan berbiji. Selain itu penggunaan racun
harus hati – hati karena juga berbahaya bagi hewan ternak dan manusia.
2. Wereng
Wereng adalah sejenis kepik yang
menyebabkan daun dan batang tumbuhan berlubang – lubang, kemudian kering, dan
pada akhirnya mati. Hama wereng ini dapat dikendalikan dengan cara – cara
sebagai betikut :
a. Pengaturan
pola tanam, yaitu dengan melakukan penanaman secara serentak maupun dengan
pergiliran tanaman. Pergiliran tanaman dilakukan untuk memutus siklus hidup
wereng dengan cara menanam tanaman palawija atau tanah dibiarkan selama 1 – 2
bulan.
b. Pengandalian
hayati, yaitu dengan menggunakan musuh alami wereng, misalnya laba – laba
predator Lycosa Pseudoannulata, kepik Microvelia douglasi danCyrtorhinuss
lividipenis, kumbang Paederuss fuscipes, Ophinea
nigrofasciata, dan Synarmonia octomaculata.
c. Pengandalian
kimia, yaitu dengan menggunakan insektisida, dilakukan apabila cara lain tidak
mungkin untuk dilakukan. Penggunaan insektisida diusahakan sedemikan rupa
sehingga efektif, efisien, dan aman bagi lingkungan.
3. Walang
Sangit
Walang sangit (Leptocorisa acuta)
merupakansalah satu hama yang juga meresahkan petani. Hewan ini jika diganggu,
akan meloncat dan terbang sambil mengeluarkan bau. Serangga ini berwarnahijau
kemerah- merahan.
Walang sangit menghisab butir –
butir padi yang masih cair. Biji yang sudah diisap akan menjadi hampa, agak
hampa, atau liat. Kulit biji iu akan berwarna kehitam – hitaman. Faktor –
faktor yang mendukung yang mendukung populasi walang sangit antara lain sebagai
berikut.
a. Sawah
sangat dekat dengat perhutanan.
b. Populasi
gulma di sekitar sawah cukup tinggi.
c. Penanaman
tidak serentak
Pengendalian terhadap hama walang
sangit dapat dilakukan sebagai berikut.
a. Menanam
tanaman secara serentak.
b. Membersihkan
sawah dari segala macam rumput yang tumbuh di sekitar sawah agar tidak menjadi
tempat berkembang biak bagi walang sangit.
c. Menangkap
walang sangit pada pagi hari dengan menggunakan jala penangkap.
d. Penangkapan
menggunakan unmpan bangkai kodok, ketam sawah, atau dengan alga.
e. Melakukan
pengendalian hayati dengan cara melepaskan predator alami beruba laba – laba
dan menanam jamur yang dapat menginfeksi walang sangit.
f. Melakukan
pengendalian kimia, yaitu dengan menggunakan insektisida.
Walang sangit muda (nimfa) lebih
aktif dibandingkan dewasanya (imago), tetapi hewan dewasa dapat merusak lebih
hebat karenya hidupnya lebih lama. Walang sangit dewasa juga dapat memakan biji
– biji yang sudah mengeras, yaitu dengan mengeluarkan enzim yang dapat mencerna
karbohidrat.
4. Ulat
Kupu – kupu merupakan serangga yang
memiliki sayap yang indah dan benareka ragam. Kupu – kupu meletakkan telurnya
dibawah daun dan jika menetas menjadi larva. Kita bisa sebut larva kupu – kupu
sebagai ulat. Pada fase ini, ulat aktif memakan dedaunan bahkan pangkal batang,
terutama pada malam hari. Daun yang dimakan oleh ulat hanya tersisa rangka atau
tulang daunya saja.
Upaya pemberantasan dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut.
a. Membuang
telur – telur kupu – kupu yang melekat pada bagian bawah daun.
b. Menggenangi
tempat persemaian dengan air dalam jumlah banyak sehingga ulat akan bergerak ke
atas sehingga mudah untuk dikumpulkan dan dibasmi.
c. Apabila
kedua cara diatas tidak berhasil, maka dapat dilakukan penyemprotan dengan
menggunakan pertisida.
5. Tungau
Tungau (kutu kecil) bisaanya
terdapat di sebuah bawah daun untuk mengisap daun tersebut. Hama ini banyak
terdapat pada musim kemarau. Pada daun yang terserang kutu akan timbul bercak –
bercak kecil kemudian daun akan menjadi kuning lalu gugur. Hama ini dapat diatasi
dengan cara mengumpulkan daun – daun yang terserang hama pada suatu tempat dan
dibakar.
B. Penyakit
Tumbuhan
Jenis – jenis penyakit yang
menyerang tumbuhan sangat banyak jumlahnya. Penyakit yang menyerang tumbuhan
banyak disebabkan oleh mikroorganisme, misalnya jamur, bakteri, dan alga.
Penyakit tumbuhan juga dapat disebabkan oleh virus.
1. Jamur
Jamur adalah salah satu
organisme penyebab penyakit yang menyerang hampir semua bagian tumbuhan, mulai
dari akar, batang, ranting, daun, bunga, hingga buahnya. Penyebaran jenis
penyakit ini dapat disebabkan oleh angin, air, serangga, atau sentuhan tangan.
Penyakit ini menyebabkan bagian
tumbuhan yang terserang, misalnya buah, akan menjadi busuk. Jika menyerang
bagian ranting dan permukaan daun, akan menyebabkan bercak – bercak
kecokelatan. Dari bercak – bercak tersebut akan keluar jamur berwarna putih
atau oranye yang dapat meluas ke seluruh permukaan ranting atau daun sehingga
pada akhirnya kering dan rontok.
Jika jamur ini mengganggu proses
fotosintesis karena menutupi permukaan daun. Batang yang terserang umumnya akan
membusuk, mula – mula dari arah kulit kemudian menjalar ke dalam, dan kemudian
membusukkan jaringan kayu. Jaringan yang terserang akan mengeluarkan getah atau
cairan. Jika kondisi ini dibiarkan, jaringan kayu akan membusuk, kemudian
seluruh dahan yang ada di atasnya akan layu dan mati.
Contoh penyakit yang disebabkan oleh
jamur adalah sebagai berikut.
a) Penyakit
pada padi.
Penyakit pada ruas batang dan butir
padi disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzea. Ruas – ruas batang
menjadi mudah patah dan tanaman padi akhirnya mati. Selain itu, terdapat pula
penyakit yang menyebabkan daun pedi menguning. Penyakit ini disebabkan oleh
jamur Magnaporthegrisea.
b) Penyakit
embun tepung.
Penyakit ini disebabkan oleh
jamur Peronospora parasitica. Jamur ini kadang – kadang menyerang
biji yang sedang berkecambah sehingga biji menjadi keropos dan akhirnya mati.
Jamur ini kadang – kadang menyerang daun pertama pada kecambah sehingga
tumbuhan menjadi kerdil. Tumbuhan kerdil dapat tumbuh terus tapi pada daun –
daunnya terdapat kercak – bercak hitam.
Untuk memberantas jamur ini
dilakukan pengendalian secara kimia, yaitu dengan pemberian fungsida pada
tanaman yang terserang jamur.
2. Bakteri
Bakteri dapat membusukkan daun,
batang, dan akar tumbuhan. Bagian tumbuh tumbuhan yang diserang bakteri akan
mengeluarkan lendir keruh, baunya sangat menusuk, dan lengket jika disentuh.
Setelah membusuk, lama – kelamaan tumbuhan akan mati. Tumbuhan yang diserang
bakteri dapat diatasi dengan menggunakan bakterisida.
Contoh penyakit yang disebabkan oleh
bakteri adalah penyakit yang menyerang pembuluh tapis batang jeruk (citrus
vein phloem degeneration atau CVPD). CVPD disebabken oleh
bakteri Serratia marcescens. Gejalanya adalah kuncup daun
menjadi kecil dan berwarna kuning, buah menjadi kuning, sehingga lama –
kelamaan akan mati. Penyakit CVPD yang belum parang dapat disembuhkan
dengan terramycin, yang merupakan sejenis antibiotik.
3. Virus
Selain bakteri dan jamur, dalam
kondisi yang sehat, tumbuhan dapat terserang oleh virus. Penyakit yang
disebabkan oleh virus cukup berbahaya karena dapat menular dan menyebar ke
seluruh tumbuhan dengan cepat. Tumbuhan yang sudah terlanjur diserang sulit
untuk disembuhkan. Contoh penyakit yang disebabkan oleh virus antara lain
penyakit daun tembakau yang berbercak – bercak putis. Penyakit ini disebabkan
oleh virus TMV (tabacco mosaic virus) yang menyerang permukaan atas daun
tembakau. Virus juga dapat menyerang jeruk. Penularan melalui perantara
serangga.
4. Alga
(Ganggang)
Keberadaan alga juga perlu diaspadai
karena dapat menyebabkan bercak karat merah pada daun tumbuhan. Tumbuhan yang
biasanya diserang antara lain jeruk, jambu biji, dan rambutan. Bagian tumbuhan
yang diserang oleh alga biasanya bagian daun, ditandai adanya bercak berwarna
kelabu kehijauan pada daun, kemudian pada permukaannya tumbuh rambut berwarnya
cokelat kemerahan. Meskipun ukurannya kecil, bercak yang timbul sangat banyak
sehingga cukup merugikan
Langkah – langkah yang harus
dilakukan agar tumbuhan tidak tersenang penyakit antara lain sebagai berikut.
a) Usahakan
tumbuhan selalu dalam kondisi prima atau sehat dengan cara tercukupi segala
kebutuhan zat haranya.
b) Jangan
membiarkan tumbuhan terlalu rimbun, pangkaslah sehingga selaruh bagian tumbuhan
mendapatkan sinar matahari yang cukup.
c) Jangan
biarkan tumbuhan terserang kutu, tungau, atau hewan yang lain yang serung
membawa bakteri atau jamur.
d) Usahakan
lingkungan selalu bersih.
e) Perhatikan
tumbuhan sesering mungkun sehingga penyakit dapat terdeteksi sedini mungkin.
f) Jika
terdapat gejala – gejala yang tampak, pangkaslah bagian tumbuhan (daun, buah,
ranting) yang terserang, kemudian dibakar agar tidak menular ke bagian atau
tumbuhan yang lainnya.
g) Penggunaan
pertisida sebagai alternative terakhir untuk pengobatan hama dan penyakit pada
tumbuhan.
“Penggunaan Pestisida untuk
Memberantas Hama dan Penyakit”
Penggunaan pestisida sintetis
membutuhkan kecermatan, baik mengenai pilihan pestisida yang aman maupun
petunjuk pemakaiannya. Hasil pemantauan rutin dapat digunakan untuk mengetahui
Janis hama dan penyakit yang menyerang, dan menentukan jenis pestisida yang
sesuai sasaran. Pemantauan juga bermanfaat agar penyemprotan tidak
terlambat dengan menggunakan dosis dan waktu yang tepat sehingga pengendalian
hama dan penyakit dapat berhasil.
Pengendalian hama dan penyakit
dengan pestisida harus memperhatikan jenis hama dan penyakit yang ada,
populasi, serta tahap pengembangan hama tersebut. Penggunaan pestisida dapat
dilakukan berdasarkan pertimbangan hal -– hal berikut.
a) Pestisida
biologi disesuaikan dengan jenis hama yang menyerang.
b) Pestisida
harus selektif, yaitu untuk hama atau penyakit yang menyerang jenis tanaman
tertentu.
c) Formulasi
pertisida harus sesuai. Misalnya untuk hama yang masuk ke dalam bunga kurang
cocok jika digunakan penyemprotan, namun lebig efektif jika berbentuk kabut
sehingga lebih mudak untuk masuk ke dalam bunga.
d) Pestisida
sistemik (masuk ke jaringan tumbuhan) atau kontak bersentuhan dengan hama,
disesuaikan dengan tahap perkembangan hama. Pada fase dewasa, kutu putih
mungkin sulit dikendalikan dengan perstisida kontak karena tubuhnya memiliki
lapisan luar yang dapat melindunginya dari semprotan langsung. Pestisida
sistemik akan lebih efektif karena larva yang baru menetas dan makan daun akan
meti karena bahan aktif yanga ada dalam tumbuhan akan meracuni hama tersebut.
C. Gulma
Selain hama dan penyakit yang
menyerang tumbuhan dan merugikan petani, gulma juga perlu
mendapat perhatian khusus. Pada petani kadang kurang memperhatikan gulma
sehingga dalam kurun waktu tertentu populasi gulma sudah melebihi batas. Gulma
– gulma ini akan berkompetisi dengan tanaman utama dalam mendapatkan unsur hara
yang diperlukan pertumbuhannya. Gulma dapat menjadi tempat persembunyian hama.
Pembersihan gulma sangat penting untuk menekan perkembangan hama yang dapat
menyerang tumbuhan.
Berdasarkan karaktristik yang
dimiliki, gulma dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu teki, rumput, dan gulma
daun lebar.
1. Teki
Kelompok teki – tekian memiliki daya
tahan luar biasa terhadap pengendalian mekanis, karena memiliki umbu batang di
dalam tanah yang mampu bertahan berbulan – bulan. Contohnya adalah teki ladang
(Cyperus rotundus).
2. Rumput
Gulma dalam kelompok ini berdaun
sempit seperti teki tetapi menghasilkan stolon. Stolon ini di dalam
tanah berbentuk jaringan rumit yang sulit diatasi secara mekanik. Contohnya
adalah alang – alang (Imperata cylindrica).
3. Gulma
daun lebar
Berbagai macam gulma dari ordo
Dicotyledoneae termasuk dalam kelompok ini. Gulma ini biasanya tumbuh pada
akhir masa budi daya. Kompetisi terhadap tanaman utama berupa kompetisi cahaya.
Contoh dari gulma berdaun lebar ini adalah daun sendok.
“Pengendalian Gulma”
Pengendalian gulma memerlukan
strategi yang khas untuk setiap kasus. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan
sebelum melakukan pengendalian gulma antara lain sebagai berikut :
a) Jenis
gulma dominan
b) Tanaman
budi daya utama
c) Alternatif
pengendalian yang tersedia
d) Dampak
ekonomi dan ekologi
Saat ini cukup banyak hebisida (pembasmi
gulma) yang tersedia di toko pertanian. Meskipun demikian, kita perlu hati –
hati dalam memilih dan menggunakan herbisida. Memperhatikan cara pemakaian
herbisida dengan benar sangatlah dianjurkan.
Tujuan pembersihan gulma antara lain
untuk mengurangi tumbuhan pengganggu yang akan menjadi pesaing tanaman utama.
Selain itu juga karena gulma merupakan inang alternetif dan tempat
persembunyian hama penyakit.
Setelah mempelajari tentang gulma
yang selalu merugikan manusia, ada juga gulma yang tidak merugikan bagi
siapapun, yaitu tanaman Rosela (Hibiscus sabdariffa l.), entah kenapa tanaman
ini termasuk gulma, kami mendapatkan ini dari satu media Internet yang membahas
tentang hama dan penyakit tumbuhan. Padahal pengertian dari gulma itu sendiri
yaitu tanaman pengganggu yang menekan pertumbuhan hama dan penyakit, dilihat
dari sisi manfaat tanaman rosela banyak sekali, antara lain mengatasi batuk,
lesu, demam, gusi berdarah, penahan kekejangan, anti cacing, anti bakteri, anti
septik, menurunkan kolesterol dalam darah, asam urat. Melihat dari manfaat –
manfaat tanaman ini, tanaman ini tidak menunjukkan tanaman yang mendatangkan
penyakit bagi manusia, malah kebalikannya, tanaman ini dapat menyembuhkan
beberapa penyakit manusia, jadi mengapa banyak orang yang menyebut tanaman ini
menjadi tanaman gulma? Karena tanaman rosela ini mudah sekali terserang
penyakit dan menularkannya ke tumbuhan lain, dan banyak sekali hewan – hewan
hama hinggap di daun / batangnya.
Hama dan Penyakit pada tumbuhan
Tumbuhan tidak selamanya bisa hidup
tanpa gangguan. Kadang tumbuhan mengalami gangguan oleh binatang atau organisme
kecil (virus, bakteri, atau jamur). Hewan dapat disebut hama karena mereka
mengganggu tumbuhan dengan memakannya. Belalang, kumbang, ulat, wereng, tikus,
walang sangit merupakan beberapa contoh binatang yang sering menjadi hama
tanaman.
Gangguan terhadap tumbuhan yang
disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur disebut penyakit. Tidak seperti hama,
penyakit tidak memakan tumbuhan, tetapi mereka merusak tumbuhan dengan
mengganggu proses – proses dalam tubuh tumbuhan sehingga mematikan tumbuhan.
Oleh karena itu, tumbuhan yang terserang penyakit, umumnya, bagian tubuhnya
utuh. Akan tetapi, aktivitas hidupnya terganggu dan dapat menyebabkan kematian.
Untuk membasmi hama dan penyakit, sering kali manusia menggunakan oat – obatan
anti hama. Pestisida yang digunakan untuk membasmi serangga disebut
insektisida. Adapun pestisida yang digunakan untuk membasmi jamur disebut
fungsida.
Pembasmi hama dan penyakit
menggunakan pestisida dan obat harus secara hati – hati dan tepat guna.
Pengunaan pertisida yang berlebihan dan tidak tepat justru dapat menimbulkan
bahaya yang lebih besat. Hal itu disebabkan karena pestisida dapat menimbulkan
kekebalan pada hama dan penyakit. Oleh karena itu pengguna obat – obatan anti
hama dan penyakit hendaknya diusahakan seminimal dan sebijak mungkin.
Secara alamiah, sesungguhnya hama
mempunyai musuh yang dapat mengendalikannya. Namun, karena ulah manusia, sering
kali musuh alamiah hama hilang. Akibat hama tersebut merajalela. Salah satu
contoh kasus yang sering terjadi adalah hama tikus. Sesungguhnya, secara
ilmiah, tikus mempunyai musuh yang memamngsanya. Musuh alami tikus ini dapat
mengendalikan jumlah populasi tikus. Musuhnya tikus itu ialah Ular, Burung
hantu, dan elang. Sayangnya binatang – binatang tersebut ditangkapi oleh
manusia sehingga tikus tidak lagi memiliki pemangsa alami. Akibatnya, jumlah
tikus menjadi sangat banyak dan menjadi hama pertanian.
A. Hama
Hama tumbuhan adalah organisme yang
menyerang tumbuhan sehingga pertumbuhan dan perkemabanganya terganggu. Hama
yang menyerang tumbuhan antara lain tikus, walang sangit, wereng, tungau, dan
ulat.
1. Tikus
Tikus merupakan hama yang sering
kali membuat pusing para petani. Hal ini diesbabkan tikus sulit dikendalikan
karena memiliki daya adaptasi, mobilitas, dan kemampuan untuk berkembang biak
yang sangat tinggi. Masa reproduksi yang relative singkat menyebabkan tikus
cepat bertambah banyak. Potensi perkembangbiakan tikus sangat tergantung dari
makanan yang tersedia. Tikus sangat aktif di malam hari.
Tikus menyerang berbagai tumbuhan.
Bagian tumbuhan yang disarang tidak hanya biji – bijian tetapi juga batang
tumbuhan muda. Yang membuat para tikus kuat memakan biji – bijian sehingga
merugikan para petani adalah gigi serinya yang kuat dan tajam, sehingga tikus
mudah untuk memakan biji – bijian. Tikus membuat lubang – lubang pada pematang
sawah dan sering berlindung di semak – semak. Apabila keadaan sawah itu rusak
maka berarti sawah tersebut diserang tikus.
Untuk mengatasi serangan hama tikus,
dapat dilakukan cara – cara sebagai berikut :
a. Membongkar dan menutup lubang
tempat bersembunyi para tikus dan menangkap tikusnya.
b. Menggunakan musuh alami tikus,
yaitu ular.
c. Menanam tanaman secara bersamaan
agar dapat menuai dalam waktu yang bersamaan pula sehingga tidak ada kesempatan
bigi tikus untuk mendapatkan makanan setelah tanaman dipanen.
d. Menggunakan rodentisida (pembasmi
tikus) atau dengan memasang umpan beracun, yaitu irisan ubi jalar atau singkong
yang telah direndam sebelumnya dengan fosforus. Peracunan ini sebaiknya
dilakukna sebelum tanaman padi berbunga dan berbiji. Selain itu penggunaan
racun harus hati – hati karena juga berbahaya bagi hewan ternak dan manusia.
2. Wereng
Wereng adalah sejenis kepik yang
menyebabkan daun dan batang tumbuhan berlubang – lubang, kemudian kering, dan
pada akhirnya mati. Hama wereng ini dapat dikendalikan dengan cara – cara
sebagai betikut :
a. Pengaturan pola tanam, yaitu
dengan melakukan penanaman secara serentak maupun dengan pergiliran tanaman.
Pergiliran tanaman dilakukan untuk memutus siklus hidup wereng dengan cara
menanam tanaman palawija atau tanah dibiarkan selama 1 – 2 bulan.
b. Pengandalian hayati, yaitu dengan
menggunakan musuh alami wereng, misalnya laba – laba predatorLycosa
Pseudoannulata, kepik Microvelia douglasi dan Cyrtorhinuss
lividipenis, kumbang Paederuss fuscipes, Ophinea
nigrofasciata, dan Synarmonia octomaculata.
c. Pengandalian kimia, yaitu dengan
menggunakan insektisida, dilakukan apabila cara lain tidak mungkin untuk
dilakukan. Penggunaan insektisida diusahakan sedemikan rupa sehingga efektif,
efisien, dan aman bagi lingkungan.
3. Walang Sangit
Walang sangit (Leptocorisa acuta)
merupakansalah satu hama yang juga meresahkan petani. Hewan ini jika diganggu,
akan meloncat dan terbang sambil mengeluarkan bau. Serangga ini berwarnahijau
kemerah- merahan.
Walang sangit menghisab butir –
butir padi yang masih cair. Biji yang sudah diisap akan menjadi hampa, agak
hampa, atau liat. Kulit biji iu akan berwarna kehitam – hitaman. Faktor –
faktor yang mendukung yang mendukung populasi walang sangit antara lain sebagai
berikut.
a. Sawah sangat dekat dengat
perhutanan.
b. Populasi gulma di sekitar sawah
cukup tinggi.
c. Penanaman tidak serentak
Pengendalian terhadap hama walang
sangit dapat dilakukan sebagai berikut.
a. Menanam tanaman secara serentak.
b. Membersihkan sawah dari segala
macam rumput yang tumbuh di sekitar sawah agar tidak menjadi tempat berkembang
biak bagi walang sangit.
c. Menangkap walang sangit pada pagi
hari dengan menggunakan jala penangkap.
d. Penangkapan menggunakan unmpan
bangkai kodok, ketam sawah, atau dengan alga.
e. Melakukan pengendalian hayati
dengan cara melepaskan predator alami beruba laba – laba dan menanam jamur yang
dapat menginfeksi walang sangit.
f. Melakukan pengendalian kimia,
yaitu dengan menggunakan insektisida.
Walang sangit muda (nimfa) lebih
aktif dibandingkan dewasanya (imago), tetapi hewan dewasa dapat merusak lebih
hebat karenya hidupnya lebih lama. Walang sangit dewasa juga dapat memakan biji
– biji yang sudah mengeras, yaitu dengan mengeluarkan enzim yang dapat mencerna
karbohidrat.
4. Ulat
Kupu – kupu merupakan serangga yang
memiliki sayap yang indah dan benareka ragam. Kupu – kupu meletakkan telurnya
dibawah daun dan jika menetas menjadi larva. Kita bisa sebut larva kupu – kupu
sebagai ulat. Pada fase ini, ulat aktif memakan dedaunan bahkan pangkal batang,
terutama pada malam hari. Daun yang dimakan oleh ulat hanya tersisa rangka atau
tulang daunya saja.
Upaya pemberantasan dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut.
a. Membuang telur – telur kupu –
kupu yang melekat pada bagian bawah daun.
b. Menggenangi tempat persemaian
dengan air dalam jumlah banyak sehingga ulat akan bergerak ke atas sehingga
mudah untuk dikumpulkan dan dibasmi.
c. Apabila kedua cara diatas tidak
berhasil, maka dapat dilakukan penyemprotan dengan menggunakan pertisida.
5. Tungau
Tungau (kutu kecil) bisaanya
terdapat di sebuah bawah daun untuk mengisap daun tersebut. Hama ini banyak
terdapat pada musim kemarau. Pada daun yang terserang kutu akan timbul bercak –
bercak kecil kemudian daun akan menjadi kuning lalu gugur. Hama ini dapat
diatasi dengan cara mengumpulkan daun – daun yang terserang hama pada suatu
tempat dan dibakar.
B. Penyakit Tumbuhan
Jenis – jenis penyakit yang
menyerang tumbuhan sangat banyak jumlahnya. Penyakit yang menyerang tumbuhan
banyak disebabkan oleh mikroorganisme, misalnya jamur, bakteri, dan alga.
Penyakit tumbuhan juga dapat disebabkan oleh virus.
1. Jamur
Jamur adalah salah satu organisme
penyebab penyakit yang menyerang hampir semua bagian tumbuhan, mulai dari akar,
batang, ranting, daun, bunga, hingga buahnya. Penyebaran jenis penyakit ini
dapat disebabkan oleh angin, air, serangga, atau sentuhan tangan.
Penyakit ini menyebabkan bagian
tumbuhan yang terserang, misalnya buah, akan menjadi busuk. Jika menyerang
bagian ranting dan permukaan daun, akan menyebabkan bercak – bercak
kecokelatan. Dari bercak – bercak tersebut akan keluar jamur berwarna putih
atau oranye yang dapat meluas ke seluruh permukaan ranting atau daun sehingga
pada akhirnya kering dan rontok.
Jika jamur ini mengganggu proses
fotosintesis karena menutupi permukaan daun. Batang yang terserang umumnya akan
membusuk, mula – mula dari arah kulit kemudian menjalar ke dalam, dan kemudian
membusukkan jaringan kayu. Jaringan yang terserang akan mengeluarkan getah atau
cairan. Jika kondisi ini dibiarkan, jaringan kayu akan membusuk, kemudian
seluruh dahan yang ada di atasnya akan layu dan mati.
Contoh penyakit yang disebabkan oleh
jamur adalah sebagai berikut.
a) Penyakit pada padi.
Penyakit pada ruas batang dan butir
padi disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzea. Ruas – ruas batang
menjadi mudah patah dan tanaman padi akhirnya mati. Selain itu, terdapat pula
penyakit yang menyebabkan daun pedi menguning. Penyakit ini disebabkan oleh
jamur Magnaporthegrisea.
b) Penyakit embun tepung.
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Peronospora
parasitica. Jamur ini kadang – kadang menyerang biji yang sedang
berkecambah sehingga biji menjadi keropos dan akhirnya mati. Jamur ini kadang –
kadang menyerang daun pertama pada kecambah sehingga tumbuhan menjadi kerdil.
Tumbuhan kerdil dapat tumbuh terus tapi pada daun – daunnya terdapat kercak –
bercak hitam.
Untuk memberantas jamur ini
dilakukan pengendalian secara kimia, yaitu dengan pemberian fungsida pada
tanaman yang terserang jamur.
2. Bakteri
Bakteri dapat membusukkan daun,
batang, dan akar tumbuhan. Bagian tumbuh tumbuhan yang diserang bakteri akan
mengeluarkan lendir keruh, baunya sangat menusuk, dan lengket jika disentuh.
Setelah membusuk, lama – kelamaan tumbuhan akan mati. Tumbuhan yang diserang
bakteri dapat diatasi dengan menggunakan bakterisida.
Contoh penyakit yang disebabkan oleh
bakteri adalah penyakit yang menyerang pembuluh tapis batang jeruk (citrus
vein phloem degeneration atau CVPD). CVPD disebabken oleh
bakteri Serratia marcescens. Gejalanya adalah kuncup daun menjadi
kecil dan berwarna kuning, buah menjadi kuning, sehingga lama – kelamaan akan
mati. Penyakit CVPD yang belum parang dapat disembuhkan dengan terramycin,
yang merupakan sejenis antibiotik.
3. Virus
Selain bakteri dan jamur, dalam
kondisi yang sehat, tumbuhan dapat terserang oleh virus. Penyakit yang
disebabkan oleh virus cukup berbahaya karena dapat menular dan menyebar ke
seluruh tumbuhan dengan cepat. Tumbuhan yang sudah terlanjur diserang sulit
untuk disembuhkan. Contoh penyakit yang disebabkan oleh virus antara lain
penyakit daun tembakau yang berbercak – bercak putis. Penyakit ini disebabkan
oleh virus TMV (tabacco mosaic virus) yang menyerang permukaan atas daun
tembakau. Virus juga dapat menyerang jeruk. Penularan melalui perantara
serangga.
4. Alga (Ganggang)
Keberadaan alga juga perlu diaspadai
karena dapat menyebabkan bercak karat merah pada daun tumbuhan. Tumbuhan yang
biasanya diserang antara lain jeruk, jambu biji, dan rambutan. Bagian tumbuhan
yang diserang oleh alga biasanya bagian daun, ditandai adanya bercak berwarna
kelabu kehijauan pada daun, kemudian pada permukaannya tumbuh rambut berwarnya
cokelat kemerahan. Meskipun ukurannya kecil, bercak yang timbul sangat banyak
sehingga cukup merugikan
Langkah – langkah yang harus
dilakukan agar tumbuhan tidak tersenang penyakit antara lain sebagai berikut.
a) Usahakan tumbuhan selalu dalam
kondisi prima atau sehat dengan cara tercukupi segala kebutuhan zat haranya.
b) Jangan membiarkan tumbuhan
terlalu rimbun, pangkaslah sehingga selaruh bagian tumbuhan mendapatkan sinar
matahari yang cukup.
c) Jangan biarkan tumbuhan terserang
kutu, tungau, atau hewan yang lain yang serung membawa bakteri atau jamur.
d) Usahakan lingkungan selalu
bersih.
e) Perhatikan tumbuhan sesering
mungkun sehingga penyakit dapat terdeteksi sedini mungkin.
f) Jika terdapat gejala – gejala
yang tampak, pangkaslah bagian tumbuhan (daun, buah, ranting) yang terserang,
kemudian dibakar agar tidak menular ke bagian atau tumbuhan yang lainnya.
g) Penggunaan pertisida sebagai
alternative terakhir untuk pengobatan hama dan penyakit pada tumbuhan.
“Penggunaan Pestisida untuk
Memberantas Hama dan Penyakit”
Penggunaan pestisida sintetis
membutuhkan kecermatan, baik mengenai pilihan pestisida yang aman maupun
petunjuk pemakaiannya. Hasil pemantauan rutin dapat digunakan untuk mengetahui
Janis hama dan penyakit yang menyerang, dan menentukan jenis pestisida yang
sesuai sasaran. Pemantauan juga bermanfaat agar penyemprotan tidak terlambat
dengan menggunakan dosis dan waktu yang tepat sehingga pengendalian hama dan
penyakit dapat berhasil.
Pengendalian hama dan penyakit
dengan pestisida harus memperhatikan jenis hama dan penyakit yang ada,
populasi, serta tahap pengembangan hama tersebut. Penggunaan pestisida dapat
dilakukan berdasarkan pertimbangan hal -– hal berikut.
a) Pestisida biologi disesuaikan
dengan jenis hama yang menyerang.
b) Pestisida harus selektif, yaitu
untuk hama atau penyakit yang menyerang jenis tanaman tertentu.
c) Formulasi pertisida harus sesuai.
Misalnya untuk hama yang masuk ke dalam bunga kurang cocok jika digunakan
penyemprotan, namun lebig efektif jika berbentuk kabut sehingga lebih mudak
untuk masuk ke dalam bunga.
d) Pestisida sistemik (masuk ke
jaringan tumbuhan) atau kontak bersentuhan dengan hama, disesuaikan dengan
tahap perkembangan hama. Pada fase dewasa, kutu putih mungkin sulit
dikendalikan dengan perstisida kontak karena tubuhnya memiliki lapisan luar
yang dapat melindunginya dari semprotan langsung. Pestisida sistemik akan lebih
efektif karena larva yang baru menetas dan makan daun akan meti karena bahan
aktif yanga ada dalam tumbuhan akan meracuni hama tersebut.
C. Gulma
Selain hama dan penyakit yang
menyerang tumbuhan dan merugikan petani, gulma juga perlu
mendapat perhatian khusus. Pada petani kadang kurang memperhatikan gulma
sehingga dalam kurun waktu tertentu populasi gulma sudah melebihi batas. Gulma
– gulma ini akan berkompetisi dengan tanaman utama dalam mendapatkan unsur hara
yang diperlukan pertumbuhannya. Gulma dapat menjadi tempat persembunyian hama.
Pembersihan gulma sangat penting untuk menekan perkembangan hama yang dapat
menyerang tumbuhan.
Berdasarkan karaktristik yang
dimiliki, gulma dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu teki, rumput, dan gulma
daun lebar.
1. Teki
Kelompok teki – tekian memiliki daya
tahan luar biasa terhadap pengendalian mekanis, karena memiliki umbu batang di
dalam tanah yang mampu bertahan berbulan – bulan. Contohnya adalah teki ladang
(Cyperus rotundus).
2. Rumput
Gulma dalam kelompok ini berdaun
sempit seperti teki tetapi menghasilkan stolon. Stolon ini di dalam
tanah berbentuk jaringan rumit yang sulit diatasi secara mekanik. Contohnya
adalah alang – alang (Imperata cylindrica).
3. Gulma daun lebar
Berbagai macam gulma dari ordo
Dicotyledoneae termasuk dalam kelompok ini. Gulma ini biasanya tumbuh pada
akhir masa budi daya. Kompetisi terhadap tanaman utama berupa kompetisi cahaya.
Contoh dari gulma berdaun lebar ini adalah daun sendok.
“Pengendalian Gulma”
Pengendalian gulma memerlukan
strategi yang khas untuk setiap kasus. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan
sebelum melakukan pengendalian gulma antara lain sebagai berikut :
a) Jenis gulma dominan
b) Tanaman budi daya utama
c) Alternatif pengendalian yang
tersedia
d) Dampak ekonomi dan ekologi
Saat ini cukup banyak hebisida (pembasmi
gulma) yang tersedia di toko pertanian. Meskipun demikian, kita perlu hati –
hati dalam memilih dan menggunakan herbisida. Memperhatikan cara pemakaian
herbisida dengan benar sangatlah dianjurkan.
Tujuan pembersihan gulma antara lain
untuk mengurangi tumbuhan pengganggu yang akan menjadi pesaing tanaman utama.
Selain itu juga karena gulma merupakan inang alternetif dan tempat
persembunyian hama penyakit.
Setelah mempelajari tentang gulma
yang selalu merugikan manusia, ada juga gulma yang tidak merugikan bagi
siapapun, yaitu tanaman Rosela (Hibiscus sabdariffa l.), entah kenapa tanaman
ini termasuk gulma, kami mendapatkan ini dari satu media Internet yang membahas
tentang hama dan penyakit tumbuhan. Padahal pengertian dari gulma itu sendiri
yaitu tanaman pengganggu yang menekan pertumbuhan hama dan penyakit, dilihat
dari sisi manfaat tanaman rosela banyak sekali, antara lain mengatasi batuk,
lesu, demam, gusi berdarah, penahan kekejangan, anti cacing, anti bakteri, anti
septik, menurunkan kolesterol dalam darah, asam urat. Melihat dari manfaat –
manfaat tanaman ini, tanaman ini tidak menunjukkan tanaman yang mendatangkan
penyakit bagi manusia, malah kebalikannya, tanaman ini dapat menyembuhkan
beberapa penyakit manusia, jadi mengapa banyak orang yang menyebut tanaman ini
menjadi tanaman gulma? Karena tanaman rosela ini mudah sekali terserang
penyakit dan menularkannya ke tumbuhan lain, dan banyak sekali hewan – hewan
hama hinggap di daun / batangnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan Komentarnya