Kelembaban tanah Tanah yang lembab dapat mempermudah pathogen
menginveksi bagian tanaman di dalam tanah, Misalnya Phytopthora palmifora
menyenangi tanah yang mengandung bahan organic tinggi dan draenase jelek.
Demikian pula Fusarium oxysporum menyenangi tanah berdraenase jelek. 3. Tanaman
inang. Berbagai jenis tumbuhan di alam merupakan tanaman inang bagi pathogen
tertentu. Ada pathogen yang hanya memiliki beberaspa tanaman inang, ada pula
pathogen yang menyukai banyak tanaman. Semakin banyak tanaman yang bisa
dijadikan inang, semakin leluasa pathogen bertahan, menyebar dan berkembang
biak. Dari sifatnya ada tanaman yang tahan terhadap gangguan pathogen, ada pula
yang peka atau rentan. Pada umumnya tanaman yang rentan perkembangan penyakit
akan lebih pesat. 4. Faktor Mekanis Faktor mekanis yang berpengaruhi terhadap
perkembangan dan penyebaran penyakit tanaman adalah : a. Teknik bercocock
tanam. Teknik bercocok tanam yang baik akan mampu menghambat perkembangan
penyakit tanaman. Pengolahan tanah dan pembuatan parit yang baik dan teratur
akan menyebabkan struktur, aerase daØ Struktur Tanah. Pada struktur tanah pejal, akar tanaman menjadi lemah
karena aerasi dan draenasenya jelak serta tanah memadat. Misalnya Phyitopthora
infestan amat menyukai kondisi tanah seprti inI, mudah menginfeksi dan
memparasit tanaman. Ø pH tanah Tanah yang mempunyai pH rendah disukai oleh sebagaian besar
cendawan. Pada tanah masam, cendawan berkembang pesat dan banyak menimbulkan
kerugian. Ø Curah hujan. Curah hujan tinggi amat membantu perkembangan cendawan
dan bakteri. Air hujan yang jatuh kepermukaan tanaman ada yang meresap kedalam
jaringan melalaui lubang alami Stomata dan lentisel. Pada saat yang bersamaan,
pathogen bisa turut masuk, kemuadian berkembang biak didalam tubuh tanaman dan
akhirnya menimbulkan gejala penyakit. Tumbukkan air hujan kepermukaan tanah
akan menimbulkan cipartan. Cipratan pathogen yang ada pada tanah ikut terlempa
, lalu menempel pada bagian yang lunak. terutama tanaman muda atau tanaman
semusim kemudian memparasit tanaman tersebut. 2. Tanah. Sifat tanah dapat
memperngaruhi perkembangan dan penyebaran penyakit tanaman misalnya. Ø Angin. Angin besar
pengaruhnya terhadap penyebaran pathogen. Tubuh pathogen amat ringan sehingga
bila ada angin sedikit saja akan mudah lepas dan terbawa terbang. Semakin angin
kencang bertiup, penyebaran pathogen akan semakin jauh dan dalam waktu relative
singkat penyakit akan cepat meluas. Ø Cahaya. Faktor cahaya yang paling utama adalah sinar matahari memiliki
hubungan erat dengan suhu dan kelembaban. Akibat cahaya matahari terik, suhu
lingkungan tempat tanaman tumbuh akan naik. Bila pada lingkungan tersebut
terdapat banyak air, maka akan terjadi penguapan sehingga lingkungan menjadi
lembab. Kondisi seperti ini amat disenangi oleh pathogen untuk melakukan
aktivitas hidupnya, termasuk berkembang biak. Ø Kelembaban. Hampir sebagian besar penyebab penyakit tanaman terutama
golongan cendawan akan berkembang dengan pesat pada kelambaban tinggi, misalnya
phitopthora palmifora. Phitopthora infestan dan Fusarium oxyforum Pada suhu,
kelembaban, dan tanaman inang yang cocok, spora akan segera tumbuh mementuk
miselium. Ø Suhu. Untuk berkembang dengan pesat, setiap pathogen menghendaki suhu
tertentu, bila suhu lebih tinggi atau elbih rendah dari pada kisaran suhu
tersebut, perkembangan dan peenyebaran pathogen akan terhambat, bahkan patogern
akan amati. ØPenyakit pada tanaman adalah disebabkan oleh adanya gangguan organisme
yang bersifat parasit , seperti cendawan, bakteri, virus dan tanaman tingkat
tinggi. Adapun penyakit itu dapat menular melalui air, angin, pelukaan oleh
alat pertanian dan lain-lain. Timbulnya suatu penyakit pada jenis tanaman disebabkan
oleh adanya interaksi antara tumbuhan yang terserang pathogen, dan ini
dipengaruhi oleh beberapa factor. Dan kondisi setiap factor akan menentukan
tingkat kerusakan tanaman pada musim tertentu. Penyakit sporadic merupakan
penyakit epifipotik yang tidak selalu terjadi setiap musim dan dengan interval
yang tidak teratur. Adapuin penyakit endemic menggambarkan suatu penyakit yang
terbatas pada wilayah geografis tertentu, atau penyakit yang selalu terdapat di
daerah tertentu dengan menimbulkan kerusakan ringan sampai berat. Adapun
factor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan dan penyebaran penyakit
antara lain sebagai berikut: 1. Faktor Iklim. Unsur iklim yang berpengaruh
besar terhadap perkembangan penyebaran penyakit adalah sebagai berikut; n draenase
tanah manjadi baik.sehingga tidak disenangi oleh pathogen. b. Sanitasi.
Tumbuhan pengganggu dan bagian tanaman yang ada pada lahan usaha tani bisa
dijadikan inang dan media berkembang biak penyakit, dengan sanitasi yang baik
berarti tidak memberi kesempatan kepada pathogen untuk memanfaatkan lingkungan
tersebut. c. Irigasi. Pembuatan saluran irigasi yang kurang baik. Pemberian air
yang tidak teratur akan menimbulkan genangan air dan kelembaban lingkungan yang
tinggi, Kondisi seperti ini amat disukai oleh banyak pathogen, selain itu
irigasi yang telah tercemar pathogen akan menjadi penyebab meluasnya serangan
penyakit tanaman.
MEDIUM PENYEBARAN PENYAKIT TANAMAN
Umumnya pathogen menetap pada tumbuhan inang yang diserapnya, kemudian
dapat berpindah atau menyebar ketanaman atau tempat lain dengan bantuan medium
penyebaran. Mediaum penyebaran yang dapat dimanfaatkan pathogen antara lain. 1.
Air. Spora cendawan atau koloni bakteri berukuran amat kecil sehingga bila
jatuh atau tersapu oleh aliran air akan mudah hanyut terbawa ketempat lain.
Proses penyebaran ini akan lebih cepat bila air yang tercemar pathogen tersebut
digunakan untuk mengairi tanaman inangnya. 2. Angin. Tiupan angin mempengaruhi
cepat atau lambatnya penyebaran penyakit. Tubuh pathogen umumnya amat kecil dan
ringan, sehingga mudah tertiup angin. Kemudian menyebar ketempat lain. 3.
Serangga. Virus tumbuhan umunyaa tidak keluar dari tubuh tanaman inang.
Penyebaran varus dari satu tanaman ke tanaman lain dibantu melalui perantara
serangga atau binatang lain (vector) yang menginfeksi atau memakan tanaman
sakit. Disamping itu vector dapat menyebarkan cendawan dan bakteri dari tanaman
sakit ketanaman lain. 4. Manusia. Dalam kegiatan pertanian manusia selalu
berperan sebagai pengelaola tanaman budidaya, termasuk melakukan pemeliharaan
tanaman, seperti menyiram, menyiang, memangkas. Pada saat melakukan
pemeliharaan tanaman, pathogen dapat menempel pada tubuh, pakaian, atau
alat-alat pertanian. Oleh karena itu manusia dalam kegiatan pertanian dapat
berperan sebagai medium penyebaran penyakit tanaman. Demikian beberapa faktor
yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit pada tanaman, semoga tulisan ini
dapat bermanfaat bagi yang membutuhkanya, sehingga dalam teknik budidaya
tanamnnya dapat berhasil dengan baik. (mnr)
2.1.
Pendahuluan
2.1.1. Deskripsi Singkat
Pokok bahasan ini menguraikan tentang konsep gangguan, kerusakan, dan
kerugian, jenis-jenis organisme penganggu tanaman (OPT); serta keseimbangan
ekosistem dalam hubungannya dengan munculnya hama.
2.1.2. Relevansi
Kajian ini memberikan pemahaman dasar mengenai mengenai jasad pengganggu
atau organisme pengganggu tanaman (OPT) sebagai pengganggu primer, yang dalam
interaksinya dengan tanaman dan lingkungan mengakibatkan mengakibatkan
kerusakan tanaman atau kerugian. Pemahaman ini selanjutnya akan bermanfaat bagi
pemahaman bahan kajian selanjutnya, yaitu hama tanaman, penyakit tanaman dan
gulma.
2.2. Penyajian
Pokok bahasan sebelumnya telah menjelaskan bahwa perlindungan tanaman adalah usaha untuk melindungi tanaman dari
ancaman atau gangguan yang dapat merusak, merugikan, atau mengganggu proses
hidupnya yang normal, sejak pra-tanam sampai pasca tanam. Adanya gangguan atau
ancaman pada tanaman sehingga menimbulkan kerusakan tanaman atau kerugian
merupakan interaksi antara tanaman itu sendiri dengan jasad penganggu atau organisme penganggu tanaman (OPT), lingkungan (keadaan cuaca/iklim, keadaan tanah,
keadaan unsur hara, dll), maupun kesalahan
manusia dalam budidaya tanaman pertanian (seperti:
penggunaan pupuk yang berlebihan atau penggunaan pestisida yang tidak benar dan
bijaksana).
2.2.1. Gangguan, Kerusakan, dan Kerugian
2.2.1.1. Gangguan
Gangguan adalah setiap perubahan pertanaman yang mengarah kepada
pengurangan kuantitas dan kualitas hasil tanaman yang diharapkan. Misalnya:
lobang pada daun sebagai akibat dimakan serangga, bercak pada daun sebagai
akibat penyakit, pengurangan tumbuh akibat persaingan dengan gulma, kematian
jerami hijauan dan pucuk tanaman sebagai akibat adanya embun es, kehilangan
klorofil sebagai akibat keracunan limbah industri, kerusakan karena angin puyuh
(cabang yang retak, pohon yang tumbang).
Timbulnya gangguan pada tanaman (tanaman inang) sangat bervariasi tergantung pada faktor pendukungnya,
seperti lingkungan yang sesuai, inang yang rentan, dan jasad pengganggu yang
agresif atau virulen.
2.2.1.2. Kerusakan
Kerusakan adalah setiap pengurangan kuantitas atau kualitas hasil
yang diharapkan sebagai akibat gangguan. Atau ditinjau dari segi ekonomi, kerusakan tanaman adalah ketidakmampuan tanaman untuk
memberikan hasil yang cukup kuantitas maupun kualitasnya. Sebagai contoh,
misalnya:
- Daun
kangkung yang terserang kumbang daun Epilachna
spp dan ulat jengkalChrysodeixis
chalcites menyebabkan daun
kangkung berlubang. Daun kangkung berlubang tersebut masih boleh dipanen atau
secara kuantitas tidak merugikan. Akan tetapi, kualitas dari daun tersebut
berkurang (menurun). Penurunan kualitas daun tersebut berakibat pada turunnya
nilai jualnya (harganya menurun).
- Serangan kumbang penggerek buah kapas (Amorphoidea,
sp) dapat menyebabkan buah tersebut gugur sebelum masak. Hal ini
mengakibatkan berkurangnya kuantitas hasil yang diperoleh, walaupun secara
kualitas hasilnya bagus.
2.2.1.3. Kerugian
Sebelumnya, telah dijelaskan bahwa dari segi ekonomi, kerusakan tanamanadalah
ketidakmampuan tanaman untuk memberikan hasil yang cukup kuantitas maupun
kualitasnya. Penurunan kualitas hasil tanaman mengakibatkan penurunan nilai jualnya
(menurunnya harga jual hasil tersebut). Penurunan kuantitas berakibat pada
berkurangnya jumlah hasil yang seharus dijual. Menurunnya nilai jual dan
berkurangnya jumlah hasil yang seharusnya dijual akan berpengaruh pada
berkurangnya pendapatan yang diperoleh. Berkurangnya pendapatan akan berdampak
pada aspek sosial ekonomi. Dampak sosial-ekonomi itulah disebut dengan kerugian.
Berbicara tentang kerugian, tentunya, kita akan berpikir ke arah kerugian
uang yang diderita oleh produsen atau petani atau penanam. Akan tetapi,
sebagian dari kerugian ini juga ditanggung oleh konsumen. Mengapa demikian? Karena ia (konsumen) harus membayar
harga yang lebih tinggi dari biasanya untuk mendapatkan hasil panen yang
kadang-kadang lebih jelek.
Dengan demikian, kerugian adalah dampak sosial ekonomi yang diderita
oleh produsen (petani atau penanam) maupun konsumen (pembeli atau pemakai hasil
tanaman) akibat penurunan kualitas dan kuantitas tanaman atau hasil tanaman.
2.2.2. Jenis-Jenis OPT yang Mengganggu Tanaman
Telah dijelaskan bahwa kerugian yang diderita oleh produsen maupun konsumen
terjadi karena kerusakan tanaman. Kerusakan tanaman merupakan akibat dari
adanya gangguan. Gangguan tersebut adalah OPT.
Terdapat tiga (3) jenis organisme pengganggu tanaman (OPT) utama pada
tanaman pertanian yaitu hama,
penyakit, dan gulma.
a. Hama
tanaman adalah semua
organisme (terutama makroorganisme) yang dalam aktivitas hidupnya selalu
merusak hasil tanaman atau bagian-bagian tertentu tanaman dan menurunkan
kuantitas maupun kualitasnya, sehingga menimbulkan kerugian ekonomis bagi yang
mengusahakannya.
Contoh organisme yang berpotensi menjadi hama tanaman adalah serangga, vertebrata, seperti
golongan mamalia (tikus, musang, babi landak, dll),golongan aves (burung), akarina (tungau), mollusca (kelompok siput-siputan), dan nematoda (cacing kecil)
b. Penyakit
tanaman adalah suatu
rangkaian proses fisiologis yang merugikan, yang berakibat pada pertumbuhan
yang abnormal atau penyimpangan-penyimpangan pertumbuhan tanaman atau
bagian-bagian tertentu tanaman, yang disebabkan oleh rangsangan yang
terus-menerus pada tanaman oleh suatu penyebab biotik primer. Hal ini
ditunjukkan oleh aktivitas sel sakit dan dinyatakan dalam keadaan morfologis
dan histologis yang disebut ”gejala”.
Contoh organisme penyebab penyakit tanaman adalah patogen
(jamur, bakteri, virus, dan mikoplasma).
c. Gulma adalah tumbuhan yang hidupnya
berasosiasi dengan tanaman yang dibudidayakan dan memberikan persaingan yang
negatif terhadap tanaman tersebut.
Contoh gulma adalah: gulma berdaun lebar, rumput, dan
teki-tekian.
2.3. Penutup
2.3.1. Rangkuman
Terjadinya kerusakan pada tanaman yang akhirnya menimbulkan kerugian secara
ekonomi (kehilangan hasil) disebabkan oleh adanya gangguan. Gangguan tersebut
timbul karena adanya interaksi antara lingkungan, tanaman inang, dan jasad
pengganggu atau organisme pengganggu tanaman (OPT). Organisme pengganggu
tanaman dapat berupa hama, penyakit, dan tumbuhan pengganggu tanaman (gulma).
Interaksi antara lingkungan, tanaman inang, dan OPT terjadi yang terjadi dalam
ekosistem atau agroekosistem terkadang menimbulkan masalah karena terganggunya
keseimbangan komponen-komponen yang menyusun agroekosistem. Ketidakseimbangan
agroekosistem tersebut akan mendorong perkembangan organisme tertentu, misalnya
hama, dimana populasinya meningkat jauh melebihi ambang kendalinya secara
alami, dimana hal ini dapat menimbulkan kerusakan tanaman yang berakibat pada
kerugian bagi yang mengusahakannya.
REFERENSI
Natawigena, H., 1993. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman.
Trigenda Karya. Bandung. Hal: 13, 33-37, 98, 147.
Rukmana, R., 1997. Hama Tanaman dan Teknik Pengendaliannya.
Kanisius. Yogyakarta. Hal. 14-17
Triharso, 1996. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Gadjah
Mada University Press. Yogyakarta. Hal: 2-11, 50-51.
Untung, K.
1984. Pengantar Analisis Ekonomi Pengendalian Hama Terpadu. Andi Offset.
Yogyakarta. Hal: 7-16.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan Komentarnya