Rabu, 11 Januari 2017

FAKTOR - FAKTOR PENYAKIT PADA TANAMAN




            Kelembaban tanah Tanah yang lembab dapat mempermudah pathogen menginveksi bagian tanaman di dalam tanah, Misalnya Phytopthora palmifora menyenangi tanah yang mengandung bahan organic tinggi dan draenase jelek. Demikian pula Fusarium oxysporum menyenangi tanah berdraenase jelek. 3. Tanaman inang. Berbagai jenis tumbuhan di alam merupakan tanaman inang bagi pathogen tertentu. Ada pathogen yang hanya memiliki beberaspa tanaman inang, ada pula pathogen yang menyukai banyak tanaman. Semakin banyak tanaman yang bisa dijadikan inang, semakin leluasa pathogen bertahan, menyebar dan berkembang biak. Dari sifatnya ada tanaman yang tahan terhadap gangguan pathogen, ada pula yang peka atau rentan. Pada umumnya tanaman yang rentan perkembangan penyakit akan lebih pesat. 4. Faktor Mekanis Faktor mekanis yang berpengaruhi terhadap perkembangan dan penyebaran penyakit tanaman adalah : a. Teknik bercocock tanam. Teknik bercocok tanam yang baik akan mampu menghambat perkembangan penyakit tanaman. Pengolahan tanah dan pembuatan parit yang baik dan teratur akan menyebabkan struktur, aerase daØ Struktur Tanah. Pada struktur tanah pejal, akar tanaman menjadi lemah karena aerasi dan draenasenya jelak serta tanah memadat. Misalnya Phyitopthora infestan amat menyukai kondisi tanah seprti inI, mudah menginfeksi dan memparasit tanaman. Ø pH tanah Tanah yang mempunyai pH rendah disukai oleh sebagaian besar cendawan. Pada tanah masam, cendawan berkembang pesat dan banyak menimbulkan kerugian. Ø Curah hujan. Curah hujan tinggi amat membantu perkembangan cendawan dan bakteri. Air hujan yang jatuh kepermukaan tanaman ada yang meresap kedalam jaringan melalaui lubang alami Stomata dan lentisel. Pada saat yang bersamaan, pathogen bisa turut masuk, kemuadian berkembang biak didalam tubuh tanaman dan akhirnya menimbulkan gejala penyakit. Tumbukkan air hujan kepermukaan tanah akan menimbulkan cipartan. Cipratan pathogen yang ada pada tanah ikut terlempa , lalu menempel pada bagian yang lunak. terutama tanaman muda atau tanaman semusim kemudian memparasit tanaman tersebut. 2. Tanah. Sifat tanah dapat memperngaruhi perkembangan dan penyebaran penyakit tanaman misalnya. Ø Angin. Angin besar pengaruhnya terhadap penyebaran pathogen. Tubuh pathogen amat ringan sehingga bila ada angin sedikit saja akan mudah lepas dan terbawa terbang. Semakin angin kencang bertiup, penyebaran pathogen akan semakin jauh dan dalam waktu relative singkat penyakit akan cepat meluas. Ø Cahaya. Faktor cahaya yang paling utama adalah sinar matahari memiliki hubungan erat dengan suhu dan kelembaban. Akibat cahaya matahari terik, suhu lingkungan tempat tanaman tumbuh akan naik. Bila pada lingkungan tersebut terdapat banyak air, maka akan terjadi penguapan sehingga lingkungan menjadi lembab. Kondisi seperti ini amat disenangi oleh pathogen untuk melakukan aktivitas hidupnya, termasuk berkembang biak. Ø Kelembaban. Hampir sebagian besar penyebab penyakit tanaman terutama golongan cendawan akan berkembang dengan pesat pada kelambaban tinggi, misalnya phitopthora palmifora. Phitopthora infestan dan Fusarium oxyforum Pada suhu, kelembaban, dan tanaman inang yang cocok, spora akan segera tumbuh mementuk miselium. Ø Suhu. Untuk berkembang dengan pesat, setiap pathogen menghendaki suhu tertentu, bila suhu lebih tinggi atau elbih rendah dari pada kisaran suhu tersebut, perkembangan dan peenyebaran pathogen akan terhambat, bahkan patogern akan amati. ØPenyakit pada tanaman adalah disebabkan oleh adanya gangguan organisme yang bersifat parasit , seperti cendawan, bakteri, virus dan tanaman tingkat tinggi. Adapun penyakit itu dapat menular melalui air, angin, pelukaan oleh alat pertanian dan lain-lain. Timbulnya suatu penyakit pada jenis tanaman disebabkan oleh adanya interaksi antara tumbuhan yang terserang pathogen, dan ini dipengaruhi oleh beberapa factor. Dan kondisi setiap factor akan menentukan tingkat kerusakan tanaman pada musim tertentu. Penyakit sporadic merupakan penyakit epifipotik yang tidak selalu terjadi setiap musim dan dengan interval yang tidak teratur. Adapuin penyakit endemic menggambarkan suatu penyakit yang terbatas pada wilayah geografis tertentu, atau penyakit yang selalu terdapat di daerah tertentu dengan menimbulkan kerusakan ringan sampai berat. Adapun factor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan dan penyebaran penyakit antara lain sebagai berikut: 1. Faktor Iklim. Unsur iklim yang berpengaruh besar terhadap perkembangan penyebaran penyakit adalah sebagai berikut; n draenase tanah manjadi baik.sehingga tidak disenangi oleh pathogen. b. Sanitasi. Tumbuhan pengganggu dan bagian tanaman yang ada pada lahan usaha tani bisa dijadikan inang dan media berkembang biak penyakit, dengan sanitasi yang baik berarti tidak memberi kesempatan kepada pathogen untuk memanfaatkan lingkungan tersebut. c. Irigasi. Pembuatan saluran irigasi yang kurang baik. Pemberian air yang tidak teratur akan menimbulkan genangan air dan kelembaban lingkungan yang tinggi, Kondisi seperti ini amat disukai oleh banyak pathogen, selain itu irigasi yang telah tercemar pathogen akan menjadi penyebab meluasnya serangan penyakit tanaman.
MEDIUM PENYEBARAN PENYAKIT TANAMAN
Umumnya pathogen menetap pada tumbuhan inang yang diserapnya, kemudian dapat berpindah atau menyebar ketanaman atau tempat lain dengan bantuan medium penyebaran. Mediaum penyebaran yang dapat dimanfaatkan pathogen antara lain. 1. Air. Spora cendawan atau koloni bakteri berukuran amat kecil sehingga bila jatuh atau tersapu oleh aliran air akan mudah hanyut terbawa ketempat lain. Proses penyebaran ini akan lebih cepat bila air yang tercemar pathogen tersebut digunakan untuk mengairi tanaman inangnya. 2. Angin. Tiupan angin mempengaruhi cepat atau lambatnya penyebaran penyakit. Tubuh pathogen umumnya amat kecil dan ringan, sehingga mudah tertiup angin. Kemudian menyebar ketempat lain. 3. Serangga. Virus tumbuhan umunyaa tidak keluar dari tubuh tanaman inang. Penyebaran varus dari satu tanaman ke tanaman lain dibantu melalui perantara serangga atau binatang lain (vector) yang menginfeksi atau memakan tanaman sakit. Disamping itu vector dapat menyebarkan cendawan dan bakteri dari tanaman sakit ketanaman lain. 4. Manusia. Dalam kegiatan pertanian manusia selalu berperan sebagai pengelaola tanaman budidaya, termasuk melakukan pemeliharaan tanaman, seperti menyiram, menyiang, memangkas. Pada saat melakukan pemeliharaan tanaman, pathogen dapat menempel pada tubuh, pakaian, atau alat-alat pertanian. Oleh karena itu manusia dalam kegiatan pertanian dapat berperan sebagai medium penyebaran penyakit tanaman. Demikian beberapa faktor yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit pada tanaman, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkanya, sehingga dalam teknik budidaya tanamnnya dapat berhasil dengan baik. (mnr)

ORGANISME PENGANGGU TANAMAN
2.1. Pendahuluan
2.1.1. Deskripsi Singkat
 Pokok bahasan ini menguraikan tentang konsep gangguan, kerusakan, dan kerugian, jenis-jenis organisme penganggu tanaman (OPT); serta keseimbangan ekosistem dalam hubungannya dengan munculnya hama.

2.1.2. Relevansi
 Kajian ini memberikan pemahaman dasar mengenai mengenai jasad pengganggu atau organisme pengganggu tanaman (OPT) sebagai pengganggu primer, yang dalam interaksinya dengan tanaman dan lingkungan mengakibatkan mengakibatkan kerusakan tanaman atau kerugian. Pemahaman ini selanjutnya akan bermanfaat bagi pemahaman bahan kajian selanjutnya, yaitu hama tanaman, penyakit tanaman dan gulma.
2.2. Penyajian
Pokok bahasan sebelumnya telah menjelaskan bahwa perlindungan tanaman adalah usaha untuk melin­dungi tanaman dari ancaman atau gangguan yang dapat merusak, merugikan, atau mengganggu proses hidupnya yang normal, sejak pra-tanam sampai pasca tanam. Adanya gangguan atau ancaman pada tanaman sehingga menimbulkan kerusakan tanaman atau kerugian merupakan interaksi antara tanaman itu sendiri dengan jasad penganggu atau organisme penganggu tanaman (OPT), lingkungan (keadaan cuaca/iklim, keadaan tanah, keadaan unsur hara, dll), maupun kesalahan manusia dalam budidaya tanaman pertanian (seperti: penggunaan pupuk yang berlebihan atau penggunaan pestisida yang tidak benar dan bijaksana).
2.2.1. Gangguan, Kerusakan, dan Kerugian
2.2.1.1. Gangguan
 Gangguan adalah setiap perubahan pertanaman yang mengarah kepada pengurangan kuantitas dan kualitas hasil tanaman yang diharapkan. Misalnya: lobang pada daun sebagai akibat dimakan serangga, bercak pada daun sebagai akibat penyakit, pengurangan tumbuh akibat persaingan dengan gulma, kematian jerami hijauan dan pucuk tanaman sebagai akibat adanya embun es, kehilangan klorofil sebagai akibat keracunan limbah industri, kerusakan karena angin puyuh (cabang yang retak, pohon yang tumbang).
Timbulnya gangguan pada tanaman (tanaman inang) sangat bervariasi tergantung pada faktor pendukungnya, seperti lingkungan yang sesuai, inang yang rentan, dan jasad pengganggu yang agresif atau virulen.
2.2.1.2. Kerusakan
 Kerusakan adalah setiap pengurangan kuantitas atau kualitas hasil yang diharapkan sebagai akibat gangguan. Atau ditinjau dari segi ekonomi, kerusakan tanaman adalah ketidakmampuan tanaman untuk memberikan hasil yang cukup kuantitas maupun kualitasnya. Sebagai contoh, misalnya:
- Daun kangkung yang terserang kumbang daun Epilachna spp dan ulat jengkalChrysodeixis chalcites menyebabkan daun kangkung berlubang. Daun kangkung berlubang tersebut masih boleh dipanen atau secara kuantitas tidak merugikan. Akan tetapi, kualitas dari daun tersebut berkurang (menurun). Penurunan kualitas daun tersebut berakibat pada turunnya nilai jualnya (harganya menurun).
- Serangan kumbang penggerek buah kapas (Amorphoidea, sp) dapat menyebabkan buah tersebut gugur sebelum masak. Hal ini mengakibatkan berkurangnya kuantitas hasil yang diperoleh, walaupun secara kualitas hasilnya bagus.
2.2.1.3. Kerugian
Sebelumnya, telah dijelaskan bahwa dari segi ekonomi, kerusakan tanamanadalah ketidakmampuan tanaman untuk memberikan hasil yang cukup kuantitas maupun kualitasnya. Penurunan kualitas hasil tanaman mengakibatkan penurunan nilai jualnya (menurunnya harga jual hasil tersebut). Penurunan kuantitas berakibat pada berkurangnya jumlah hasil yang seharus dijual. Menurunnya nilai jual dan berkurangnya jumlah hasil yang seharusnya dijual akan berpengaruh pada berkurangnya pendapatan yang diperoleh. Berkurangnya pendapatan akan berdampak pada aspek sosial ekonomi. Dampak sosial-ekonomi itulah disebut dengan kerugian.
Berbicara tentang kerugian, tentunya, kita akan berpikir ke arah kerugian uang yang diderita oleh produsen atau petani atau penanam. Akan tetapi, sebagian dari kerugian ini juga ditanggung oleh konsumen. Mengapa demikian? Karena ia (konsumen) harus membayar harga yang lebih tinggi dari biasanya untuk mendapatkan hasil panen yang kadang-kadang lebih jelek.
Dengan demikian, kerugian adalah dampak sosial ekonomi yang diderita oleh produsen (petani atau penanam) maupun konsumen (pembeli atau pemakai hasil tanaman) akibat penurunan kualitas dan kuantitas tanaman atau hasil tanaman.

2.2.2. Jenis-Jenis OPT yang Mengganggu Tanaman
Telah dijelaskan bahwa kerugian yang diderita oleh produsen maupun konsumen terjadi karena kerusakan tanaman. Kerusakan tanaman merupakan akibat dari adanya gangguan. Gangguan tersebut adalah OPT.
Terdapat tiga (3) jenis organisme pengganggu tanaman (OPT) utama pada tanaman pertanian yaitu hama, penyakit, dan gulma.
a. Hama tanaman adalah semua organisme (terutama makroorganisme) yang dalam aktivitas hidupnya selalu merusak hasil tanaman atau bagian-bagian tertentu tanaman dan menurunkan kuantitas maupun kualitasnya, sehingga menimbulkan kerugian ekonomis bagi yang mengusahakannya.
Contoh organisme yang berpotensi menjadi hama tanaman adalah serangga, vertebrata, seperti golongan mamalia (tikus, musang, babi landak, dll),golongan aves (burung), akarina (tungau), mollusca (kelompok siput-siputan), dan nematoda (cacing kecil)
b. Penyakit tanaman adalah suatu rangkaian proses fisiologis yang merugikan, yang berakibat pada pertumbuhan yang abnormal atau penyimpangan-penyimpangan pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tertentu tanaman, yang disebabkan oleh rangsangan yang terus-menerus pada tanaman oleh suatu penyebab biotik primer. Hal ini ditunjukkan oleh aktivitas sel sakit dan dinyatakan dalam keadaan morfologis dan histologis yang disebut ”gejala”.
Contoh organisme penyebab penyakit tanaman adalah patogen (jamur, bakteri, virus, dan mikoplasma).
c. Gulma adalah tumbuhan yang hidupnya berasosiasi dengan tanaman yang dibudidayakan dan memberikan persaingan yang negatif terhadap tanaman tersebut.
Contoh gulma adalah: gulma berdaun lebar, rumput, dan teki-tekian.
2.3. Penutup
2.3.1. Rangkuman
 Terjadinya kerusakan pada tanaman yang akhirnya menimbulkan kerugian secara ekonomi (kehilangan hasil) disebabkan oleh adanya gangguan. Gangguan tersebut timbul karena adanya interaksi antara lingkungan, tanaman inang, dan jasad pengganggu atau organisme pengganggu tanaman (OPT). Organisme pengganggu tanaman dapat berupa hama, penyakit, dan tumbuhan pengganggu tanaman (gulma). Interaksi antara lingkungan, tanaman inang, dan OPT terjadi yang terjadi dalam ekosistem atau agroekosistem terkadang menimbulkan masalah karena terganggunya keseimbangan komponen-komponen yang menyusun agroekosistem. Ketidakseimbangan agroekosistem tersebut akan mendorong perkembangan organisme tertentu, misalnya hama, dimana populasinya meningkat jauh melebihi ambang kendalinya secara alami, dimana hal ini dapat menimbulkan kerusakan tanaman yang berakibat pada kerugian bagi yang mengusahakannya.






REFERENSI
Natawigena, H., 1993. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Trigenda Karya. Bandung. Hal: 13, 33-37, 98, 147.
Rukmana, R., 1997. Hama Tanaman dan Teknik Pengendaliannya. Kanisius. Yogyakarta. Hal. 14-17
Triharso, 1996. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Hal: 2-11, 50-51.
Untung, K. 1984. Pengantar Analisis Ekonomi Pengendalian Hama Terpadu. Andi Offset. Yogyakarta. Hal: 7-16.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Komentarnya