Rabu, 11 Januari 2017

LAPORAN EKOFISIOLOGI TUMBUHAN (JAGUNG)

http://blogtaria.blogspot.sg/2015/03/laporan-praktikum-ekofisiologi-tanaman.html

LAPORAN PRAKTIKUM EKOFISIOLOGI TANAMAN


ACARA I. ANALISIS PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG
A.    Tujuan Praktikum
            Untuk mengukur petumbuhan tanaman jagung yang dihubungkan dengan penambahan luas daun dan biomassa tanaman.
B.     Pelaksanaan Praktikum
1.      Waktu Praktikum  : Minggu, 7 Desember 2014
2.      Tempat Praktikum : Kebun Percobaan Narmada Fakultas Pertanian, Universitas Mataram.
C.    Tinjauan Pustaka
Tanaman jagung ( Zea mays L.) adalah tanaman serealia penghasil karbohidrat yang merupakan makanan pokok kedua setelah padi. Menurut Rukmana, (1993) kandungan kimia jagung terdiri atas air 13.5%, protein 10.0%,lemak 4.0%, karbohidrat 61.0%, gula 1.4%, pentosan 6.0%, serat kasar 2.3%, abu1.4% dan zat-zat lain 0.4%.
Pertumbuhan tanaman merupakan suatu konsep universal dalam biologi dan merupakan hasil dari berbagai proses fisiologi yang berinteraksi dalam tubuh tanaman bersama faktor luar. Ketiga proses tersebut yaitu pertambahan ukuran, bentuk dan jumlah (Sitompul dan Guritno, 1995). Pertumbuhan, dalam arti terbatas, menunjuk pada pertambahan ukuran yang tidak dapat balik, mencerminkan pertambahan protoplasma. Pertumbuhan tanaman ditunjukkan oleh pertambahan ukuran dan berat kering yang tidak dapat balik (Harjadi, 1988).
Pertumbuhan dapat diukur sebagai pertambahan panjang, lebar atau luas; tetapi dapat pula diukur berdasarkan pertambahan volume, masa atau berat ( segar atau kering ). Setiap parameter ini menggambarkan sesuatu yang berbeda dan jarang adanya hubungan sederhana antara mereka dalam organisme yang sedang tumbuh. Hal ini disebabkan pertumbuhan sering terjadi dalam arah dan kadar cepat yang berbeda yang satu sama lain tidak ada keterkaitan, sehingga perbandingan linier antara luas dan volume tidak terjadi pada waktu yang bersamaan. Dengan melibatkan parameter lingkungan seperti cahaya, suhu, air dan lain-lain, suatu model pertumbuhan yang sederhana dari suatu bagian tumbuhan seperti akar, daun dan batang telah  dilakukan (Hariyadi, 1988).
D.     Bahan dan Alat Praktikum
1.      Bahan Praktikum :
a.       Benih jagung
b.      Pupuk phonska
c.       Amplop
2.      Alat Praktikum      :
a.       Penggaris
b.      silet
c.       Alat tulis menulis
d.      Tugal
E.     Cara Kerja
a.       Ditanam tanaman jagung dengan jarak tanam 70 cm antar barisan dan 20 cm didalam barisan dengan dua benih tanaman perlubang.
b.      Dipelihara tanaman tersebut sesuai dengan standar teknologi pemeliharaan tanaman jagung
c.       Dilakukan pengamatan dan pengambilan tanaman sampel setiap minggu sejak minggu pertama setelah tanam untuk analisis petumbuhan dan perkembangan tanaman.
d.      Diambildari setiap petak dua sampel tanaman jagung dengan cara memotong tanamanpada buku yang terbawah.
e.       Dipisahkan antara bagian daun dan batang serta organ lainnya. Diukur panjang daun dan lebar (bagian yang terlebar) dari masing-masing tanaman sampel dan setelah itu daun-daun yang sudah diukur kemudian dimasukan kedalam amplop yang berbeda untuk setiap tanaman sampelnya.
f.       Luas daun sebenarnya dari beberapa sampel daun diukur dilaboratorium produksi tanaman dengan menggunakan alat leaf area meter
g.      Hasil perkalian panjang dan lebar daun kemudian di plotkan dengan hasil pengukuran luas daun sebenarnya. Persamaan regresi linear selanjutnya bisa dicari dari hubungannantara panjang x lebar dengan luas daun sebenarnya. Slope dari garis ( nilai b dari persamaan segresi linear adalah merupakan faktor koreksi dari luas daun tanaman jagung. Nilai faktor koreksi ini selanjutnya digunakan untuk mencari nilai luas daun jagung sebenarnya dari sampel di lapangan dengan cara mengalikan dengan hasil perkalian panjang dan lebar daun. Persamaanya adalah A=b* ( P x L),  yang mana A adalah luas daun, b, faktor koreksi, P panjang daun dan L lebar daun.
h.      Batang dan organ-organ lainnya juga dimasukan masing-masing kedalam amplop yang berbeda.
i.        Sampel organ-organ tanaman dimasukan kedalam oven dan selanjutnya dikeringkan pada temperatur 80oc selama kurang lebih 24 jam.
j.        Sampel yang sudah kering selanjutnya ditimbang untuk setiap bagian/ organ dari setiap sampelnya.
k.      Dihitung laju pertumbuhan absolut atau absolute growth rate (AGR) serta laju pertumbuhan nisbih atau relative growth rate (RGR) dari masing-masing sampel. AGR dapat dihitung  dengan rumus.
l.        Dimana W1 adalah biomassa tanaman pada minggu sebelumnya, W2 adalah biomassa tanaman pada saat pengambilan sampel dan t adalah selisih waktu (hari) pengamatan. Sementara itu RGR dihitung dengan rumus
m.    RGR
F.     Dari data luas daun yang ada, hitunglah indeks laus daun tanaman dengan mengacu pada jumlah tanaman per meter perseginya adalah 12 tanaman.

G.    Hasil Pengamatan
Umur tanaman (Minggu)
Luas daun
Berat daun (gr)
Berat batang (gr)
I
II
I
II
I
II
1
9,74
7,97
7,12
7,26
0,02
0,02
0,03
0,06
2
35,95
37,81
0,50
0,15
0,08
0,80
8,95
12
22,94
23,16
22,25
22,26
3
163,13
201,92
3,47
3,23
1,51
1,52
160,11
164,72
3,03
1,88
1,07
1
4
308,57
355,79
15,72
14,03
12,36
8,12
329,95
307,39
10,20
10,97
7,53
6,88
5
447,49
525,21
12,44
22,24
14,92
14,35
428,91
485,51
44,58
46,87
29,46
29,46

http://blogtaria.blogspot.sg/2015/03/laporan-praktikum-ekofisiologi-tanaman.html

A.    Pembahasan
Analisis pertumbuhan merupakan suatu cara untuk mengikuti dinamika fotosintesis yang diketahui dengan cara pengukuran tinggi tanaman dan jumlah daun, selain itu juga analisis pertumbuhan dapat diukur oleh total berat kering tanaman jagung tersebut
Praktikum ini menganalisis tanaman jagung dari umur dua minggu sampai 7 minggu. Berdasarkan hasil pengamatan pada tabel 1- 6 tinggi tanaman jagung meningkat dari minggu ke 2 hingga minggu ke 7. Begitu juga dengan jumlah daun yang semakin bertambah dari minggu ke minggu. Semakin tinggi tanaman jagung maka buku ruas tanaman jagung akan semakin banyak, dengan bertambahnya buku ruas pada batang tanaman jagung, daun tanaman jagung akan semakin banyak.
Daun merupakan organ fotosintetik utama dalam tubuh tanaman, di mana terjadi proses perubahan energi cahaya menjadi energi kimia dan mengakumulasikannya dalam bentuk bahan kering. Berdasarkan hasil pengamatan pada tabel 1 – 6 terlihat bahwa daun dan luas daun tanaman jagung semakin meningkat seiring dengan pertambahan umur tanaman. semakin luas permukaan daun semakin banyak cahaya yang bisa ditangkap oleh tanaman tersebut untuk fotosintesis untuk prose pertumbuhan dan menghasilkan biomassa, jadi luas daun merupakan faktor penentu sehingga perbedaan biomassa per unit waktu dapat dibagi dengan luas daun untuk menghasilkan laju asimilasi bersih.
Pada tanaman jagung terlihat perkembangan indeks luas daun dari umur 2 minggu sampai 7 minggu http://blogtaria.blogspot.sg/2015/03/laporan-praktikum-ekofisiologi-tanaman.html
“BAHAS SENDIRI DATA YANG DITABEL”
B.     Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
SIMPULKAN SENDIRI

ACARA II. PENJERAPAN CAHAYA OLEH KANOPI TANAMAN JAGUNG
C.    Tujuan Praktikum
            Untuk mempelajari kemampuan penjerapan cahaya oleh kanopi tanaman pada berbagai indeks luas daun.
D.    Pelaksanaan Praktikum
1.      Waktu Praktikum  : Minggu, 14 Desember 2014
2.      Tempat Praktikum : Kebun Percobaan Narmada Fakultas Pertanian, Universitas Mataram
E.     Tinjauan Pustaka
Pertumbuhan pada tanaman dipengaruhi oleh banyak faktor baik dari dalam maupun dari luar. Salah satu factor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman dari luar yaitu faktor cahaya yang dapat menghambat proses pertumbuhan batang tanaman karena cahaya dapat menguraikan auksin yaitu salah satu hormon pertumbuhan.Pada setiap tahap dalam kehidupan suatu tumbuhan, sensitivitas terhadap lingkungan dan koordinasi responssangat jelas terlihat. Tumbuhan dapat mengindera gravitasi dan arah cahaya dan menanggapi stimulus-stimulusini dengan cara yang kelihatannya sangat wajar bagi kita. Seleksi alam lebih menyukai mekanisme responstumbuhan yang meningkatkan keberhasilan reproduktif, namun ini mengimplikasikan tidka adanya perencanaanyang disengaja pada bagian dari tumbuhan tersebut (Campbell, 2002).
Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gandum.Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas.Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin.Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula.Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stoma dikelilingi sel-selepidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun.


F.      Bahan dan Alat Praktikum
1.      Bahan Praktikum :
a.       Benih jagung
b.      Pupuk phonska
2.      Alat Praktikum      :
        AccuPAR
G.    Cara Kerja
a.       Cahaya diatas kanopi (lo) tanaman dari masing petak diukur dengan menggunakan alat AccuPAR tepat pada tengah hari (sekitar pukul 12- pukul 13 pada saat langit cerah) ( mulai jam 10 sampai jam 1)
b.      Setelah setiap dua kali pengukuran cahaya diatas kanopi, dilakukan pengukuran dibawah kanopi masing-masing lima kali untuk setiap petak http://blogtaria.blogspot.sg/2015/03/laporan-praktikum-ekofisiologi-tanaman.html
c.       Cahaya dibawah kanopi (l) diukur dengan cara memasukan AccuPAR dibawah kanopi tanaman( kira-kira 10 cm di permukaan tanah) dengan arah memotong barisan tanaman
d.      Kemampuan tanaman dalam menjerap cahaya (koopesien penjerapan) dapat dihitung berdasarkan data indeks luas daun (L) dari masing-masing umur tanaman yang sudah dihitung sebelumnya dengan rumus:
H.    Hasil Pengamatan
Kelompok
Jumlah biji perlubang tanam
Jumlah penjerapan cahaya (kanopi)
Diatas
Dibawah
1
2
3
4
1, 6, 3, 8
1
977
407
357,75
369,25
379,75
2, 7, 5, 10
2
884,75
324
171,5
172,5
207
4, 9
         3
975,5
249,5
405,5
167,5
225,5
I.       Pembahasan
Dari tinjauan diatas telah dipaparkan bahwa ketersediaan cahaya sangat dibutuhkan salah satunya dalam proses perpanjangan batang. Dari hasil pengamatan selama 7 hari ( lihat pada tabel ) tanaman-tanaman yang diletakkan pada area cukup cahaya memiliki daun-daun yang lebar dan kelihatan segar tidak layu, sedangkan tanaman yangdiletakkan pada area gelap daunnya kecil-kecil dan kusam agak kekuningan. http://blogtaria.blogspot.sg/2015/03/laporan-praktikum-ekofisiologi-tanaman.html Hal ini menunjukkan bahwa teoritentang pentingnya cahaya bagi pertumbuhan suatu tanaman memang benar, dan juga bahwa cahaya merupakanfactor pembentuk warna hijau daun (chlorophyll) dan mensintesisnya. Kareana hasil pengamatan jugamembenarkan hal tersebut, daun pada tanaman yang diletakkan pada area cukup cahaya memiliki daun yanglebih hijau dan segar dibanding yang diletakkan pada area gelap. Untuk panjang batangnya sendiri, tanamanyang diletakkan pada area gelap lebih panjang dibanding tanaman cukup cahaya, namun demikian panjangnyatersebut terlihat kurus tidak sehat, lain halnya tanaman yang cukup cahaya walaupun batang lebih pendek namun terlihat gemuk sehingga mampu menopang daun-daunnya yang lebar. Panjang batang dari tanaman yangdiletakkan pada area gelap sebenarnya karena adanya gerak nasti, yaitu usaha tanaman mencari cahaya untuk keperluan metabolisme tanaman. Proses inilah yang menyebabkan batangnya hanya semakin panjang sedangkan daunnya kecil-kecil, karena hasil metabolisme sementara hanya digunakan untuk keperluan pemanjangan batang dalam pencarian cahaya tadi untuk dapat melakukan fotosintesis dan pemenuhannkebutuhan seluruh organ tanaman selanjutnya
J.      Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
Kesimpulannya adalah memang benar cahaya mempengaruhi pertumbuhan tanaman jagung, dimana tanaman jagung yang ditempatkan di tempat yang gelap batangnya lebih tinggi daripada batang tanaman jagung yangditempatkan di tempat yang terang
 materi mentah..... tolong dikoreksi sendiri... semangat
Daftar Pustaka
Rukmana, R., 1993. Usaha Tani Jagung. Kanisius. Yogyakarta.
TINJAUAN PUSTAKA ACARA 2 DI LENGKAPI DARI SINI
Tinjauan Tentang Pengaruh Cahaya Terhadap PertumbuhanPertumbuhan dapat diartikan sebagai proses pertambahan ukuran atau volume serta jumlah sel secarairreversibel, yaitu tidak dapat kembali ke bentuk semula. Pertumbuhan bersifat kuantitatif artinya dapatdinyatakan dengan suatu bilangan. Pertumbuhan dipengaruhi oleh banyak faktor yaitu factor dari dalam maupundari luar tumbuhan. Salah satu factor pertumbuhan dari luar yaitu cahaya. Cahaya khusunya cahaya mataharimerupakan sumber energi yang penting untuk melaksanakan fotosintesis pada tanaman. Cahaya berpengaruhterhadap pertumbuhan setiap organ atau terhadap keseluruhan tumbuhan secara langsung. Tanpa adanya cahayatumbuhan hijau tak mungkin dapat bertahan hidup dalam waktu yang lama. Banyaknya cahaya yang diperlukanoleh tumbuhan berbeda
 
beda antara tumbuhan satu dengan tumbuhan lainnya. Dalam eksperimen yangdilakukan oleh Boysen-Jensen (1910) menyimpulkan bahwa bahan kimia yang dihasilkan dari bagian ujung daerah perpanjangan akan turun apabila terkena cahaya matahari dan berpindah ke sisi yang tidak ada sinar matahari. Sebagai akibatnya sisi tersebut menimbun banyak bahan kimia. Dengan demikian, pertumbuhan pada bagian yang tidak kena cahaya akan lebih cepat dari pada bagian yang terkena cahaya. Kesimpulannya ada bahan yang diproduksi oleh sel pada ujung daerah perpanjangan yang turun dari ujung pada sisi yang tidak kenacahaya dan menyebabkan terjadinya pertumbuhan yang lebih cepat di derah gelap. Pertumbuhan yang cepat didaerah gelap disebut etiolasi. Frits Wewl (1928) dalam percobaannya menyimpilkan, bahwa bahan kimiatersebut dapat mempercepat proses pertumbuhan dan dinamakan auksin. Auksin merupakan hormone pertumbuhan yang ditemukan di ujung batang dan akar serta di tempat pembentukan bunga, buah dan daun.Biji-bijian dari banyak spesies tidak akan berkecambah pada keadaan gelap, biji-biji itu memerlukan rangsangancahaya. Karena itu kelihatannya perkecambahan yang dikendalikan cahaya merupakan satu adaptasi tanamanyang tidak toleran terhadap penaungan. Beberapa peneliti telah memperlihatkan bahwa biji yang peka terhadapcahaya tidak akan berkecambah dibawah kanopi daun. Cahaya sendiri memiliki suatu intensitas, kerapatan pengaliran atau intensitas menunjukkan pengaruh primernya terhadap fotosintesis dan pengaruh sekundernya pada morfogenetika pada intensitas rendah, tetapi sebagian memerlukan energi yang lebih besar (Mancinelli danRabino, 1987). Ekologi tanaman dalam kaitannya dengan intensitas cahaya diatur oleh dua hal : 1. Penempatan daun dalam posisi dimana akan diterima intersepsi cahaya maksimum. Berarti diatas kanopi dandidalam komunitas yang kompleks sebagian besar daun tesebut tidak dapat mencapainya. Karena itu sebagian besar dari daun akan berada pada intensitas cahaya yang kurang dari yang dibutuhkan2. Fotosintesis dimaksimumkan untuk energi yang diterima, dengan anggapan keadaan ini menjadi dibawah titik  jenuh cahaya untuk fotosintesis normal, sehingga tetap dalam kesinambungan neto karbon yang positif (pengikatan CO2 untuk fotosintesis lebih besar daripada jumlah yang dikeluarkan pada respirasi dan hasilkarbohidrat). Sehelai daun yang berada pada keseimbangan C yang negative akan memerlukan gula yangdiambil dari sisa tanaman dan akan mengurangi ketegaran secara menyeluruhAdanya penyinaran sinar matahari akan menimbulkan cahaya. Sedang cahaya sangat dibutuhkan untuk
  
CARI DAFTAR PUSTAKA UNTUK TINJAUAN ACARA 1 N 2 DISINI
DAFTAR PUSTAKA
Blad, B. L. Dan D. G. Baker.  1972.  Orientation and distribution of leaves within Soybeans canopies.  Agron. J. 64 : 26 – 29.
Fried, George H. & George J. Hademenos. 2000. Scahum’s Outlines of Theory and Problems of BIOLOGY , 2nd Edition. The McGraw-Hall Companies
Fried, George H. & George J. Hademenos. 2000. Scahum’s Outlines BIOLOGI,  Edisi Kedua. Erlangga. Jakarta.
Gardner, F.P., Pearce, R.B., dan Mitchell, R.I. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya (diterjemahkan oleh Herawati Susilo). UI Press, Jakarta.
Hariyadi, S.S. 1988. Pengantar Agronomi. Penerbit PT Gramedia, Jakarta.
Harjadi, M.M.Sri Setyati. 1988. Pengantar Agronomi. Gramedia: Jakarta.


Lakitan, B. 1996. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman.: Penerbit P.T. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Noggle, G.R and Frits, G.J. 1983. Introduction Plant Physiology, Second Edition. New Jersey: Prentice Hall, Inc, Englewood Clifts.
Salisbury, F.B. and. Ross, C.W. 1995. Fisiologi Tumbuhan, Jilid 3. (diterjemahkan oleh Diah dan Sumaryono) ,Penerbit ITB, Bandung.
Shibles, R. M. Dan C. R. Weber.  1965.  Leaf area, solar radiation, interception and dry matter production by Soybeans.  Crop Sci. 5 : 575 – 578

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Komentarnya