KONSEP SEGI
EMPAT HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam dunia pertanian, perlindungan tanaman sangat dibutuhkan.
Perlindungan tanaman meliputi segala kegiatan perlindungan terhadap kerusakan
pertanaman mulai dari tanam sampai diterima konsumen. Perlindungan tanaman
menyangkut seluruh ilmu pertanian dan peraturan hukum, ditinjau dari keuntungan
produsen. Pengetahuan perlindungan tanaman dalam arti luas mempelajari gangguan
karena penyakit, hama, gulma tanaman dan pengganggu abiotik serta cara
penanggulangannya (Triharsono, 2010:1).
Gangguan
pada tanaman disebabkan Organisme Pangganggu Tanaman. OPT (Organisme
Pengganggu Tanaman) terdiri dari tiga kelompok pengganggu yaitu hama
(binatang Vertebrata dan Invertebrata), penyakit (Mikoplasma, Virus, Jamur,
Bakteri) dan gulma (rumput-rumputan dan gulma berdaun lebar (rinjawan.blogspot.com).
Dalam
mengganggu tanaman, pengganggu dapat bekerja sendiri-sendiri atau dapat bekerja
sama antara dua atau lebih pengganggu (vektor, sinergisme, mengangkut, membuat
jalan masuk). Gangguan hama lebih banyak bersifat mekanik yang prosesnya tidak
berkesinambungan, gangguang penyakit lebih bersifat gangguang fisiologis
tanaman yang sifatnya berkesinambungan dan gangguan gulma lebih bersifat
persaingan baik unsur hara maupun cahaya (rinjawan.blogspot.com).
Konsep timbulnya gangguan pada tumbuhan
sangat bervariasi, tergantung pada vaktor pendukungnya. Faktor pendukung
timbulnya gangguan meliputi lingkungan yang sesuai, inang yang rentan, dan juga
dikarenakan oleh pengganggu yang agresif atau virulen (Triharsono, 2010:50).
Gangguan yang disebabkan oleh tersebut
menyebabkan tanaman tersebut menjadi sakit.tanaman/pohon yang sakit dapat
didefinisikan sebagai tanaman/pohon yang mengalami gangguan fisiologis yang
disebabkan oleh penyebab penyakit yaitu pathogen yang kemudian gangguan ini
dimunculkan dalam bentuk gejala dan dimana kejadian ini secara ekonomis
merugikan manusia (Adinugroho, 2008:4).
Dalam tugas mandiri kali ini, akan
dijelaskan mengenai peranan manusia dalam menyebabkan penyakit pada
tanaman. Peranan manusia dalam perannya menyebabkan gangguan terjadi dalam
bentuk rekayasa lingkungan, rekayasa tumbuhan, dan rekayasa penyebab gangguan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana
peran manusia dalam merekayasa komponen dasar tumbuhnya penyakit ditinjau dari
faktor lingkungan?
2. Bagaimana
peran manusia dalam merekayasa komponen dasar tumbuhnya penyakit ditinjau dari
faktor inang?
3. Bagaimana
peran manusia dalam merekayasa komponen dasar tumbuhnya penyakit ditinjau dari
faktor penyebab gangguan (patogen)?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui
peran manusia dalam merekayasa komponen dasar tumbuhnya penyakit ditinjau dari
faktor lingkungan.
2. Mengetahui
peran manusia dalam merekayasa komponen dasar tumbuhnya penyakit ditinjau dari
faktor inang.
3. Mengetahui
peran manusia dalam merekayasa komponen dasar tumbuhnya penyakit ditinjau dari
faktor penyebab gangguan (patogen).
II. KAJIAN PUSTAKA
2.1 Konsep Timbulnya Penyakit (Konsep
Segi Tiga Gangguan)
Penyakit tanaman dapat terjadi jika
sedikitnya terdapat kontak dan interaksi antara dua komponen. Komponen tersebut
berupa tanaman dan patogen. Jika pada saat terjadinya kontak tersebut
lingkungan mendukung, maka akan terjadi penyakit. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa suatu penyakit akan terjadi jika pada suatu waktu di satu
tempat terdapat tanaman yang rentan, sementara patogen yang virulen dan
lingkungan baik fisik kimia maupun biologi yang sesuai dengan untuk terjadinya
penyakit. Apabila satu faktor saja tidak tersedia, maka penyakit tidak akan
terjadi. Interaksi antara tanaman, patogen yang virulen dan lingkungan ini
sering disebut sebagai konsep segitiga penyakit (Utami dan Anggraini,
2008:228).
Pada
konsep segi tiga penyakit tersebut, apabila salah satu faktor penyebab tidak
ada, maka tidak akan terjadi suatu penyakit pada tanaman. Namun, apabila
dalam kondisi pertumbuhan tanaman terdapat pathogen disekitar tanaman tersebut
serta lingkungan mendukung pertumbuhan pathogen, maka kecenderungan untuk
terjadinya infeksi penyakit pada tanaman cukup besar (Adinugroho,
2008:14).
2.2Peran Manusia dalam Menimbulkan
Penyakit Tanaman (Konsep Segi Empat Gangguan)
Konsep
timbulnya suatu penyakit semakin berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu
penyakit tumbuhan, pada awalnya para pakar yang dipelopori oleh DeBary (dalam
Adinugroho, 2008:4) menujuk pathogen sebagai penyebab penyakit yang utama.Dalamperkembangannya, diketahui bahwa dalam berbagai buku
teks mengenai penyakit tumbuhan umunya dianut konsep segitiga penyakit (disease triangle) seperti antara lain dikemukan oleh Blanchard dan
Tattar (dalam Adinugroho, 2008:4). Ketiga komponen penyakit tersebut adalah
inang, pathogen dan lingkungan.
Kemudian berkembang sebuah konsep yang
didasari pemikiran bahwa manusia ikut berperan dalam timbulnya suatu penyakit
tumbuhan (Triharsono, 2010:51).Hal tersebut dikarenakan manusia dapat
memberikan pengaruh terhadap pathogen dan tanaman inang itu sendiri serta
kondisi lingkungan sebagai faktor-faktor yang dapat menimbulkan penyakit
tanaman.Konsep ini dikenal dengan segi empat penyakit (dalam Adinugroho,
2008:4).
Manusia sebagaipenanam, berusaha untuk
mempengaruhi ketiga faktor yang dapat menimbulkan penyakit (lingkungan, inang,
dan patogen) agar terjadi interaksi yang menguntungkan bagi manusia. Namun
demikian, adanya campur tangan manusia menyebabkan interaksi dari kempat
faktor tersebut yang akan memicu terjadinya penyimpangan proses fisiologi
tanaman, sehingga terjadi penyakit (Utami dan Anggraini, 2008:228).
Dalam konsep segi empat gangguan,
gangguan akan terjadi jika tanaman rentan berinteraksi dengan patogen virulen
dalam lingkungan yang menguntungkan perkembangan pengganggu, karena adanya
tindakan manusia. Dengan demikian perlindungan tanaman pada konsep segi empat
gangguan ini ditujukan untuk empat sasaran, yaitu tanaman, pengganggu,
lingkungan dan manusia (Purnomo, 2006:6). Sehingga dibutuhkan manajemen lahan
yang baik oleh manusia agar tidak melakukan tindakan yang mengakibatkan
terjadinya interaksi ketiga faktor dalam konsep segi tiga gangguan.
2.3 Komponen Dasar Tumbuhnya Penyakit
Untuk timbulnya suatu penyakit paling
sedikit diperlukan tiga faktor yang mendukung, yaitu tanaman inang atau host,
penyebab penyakit atau pathogen dan faktor lingkungan.
2.3.1 Tanaman Inang
Pengaruh tanaman inang terhadapnya timbulnya suatu
penyakit tergantung dari jenis tanaman inang, kerentanan tanaman, bentuk dan
tingkat pertumbuhan, struktur dan kerapatan populasi, kesehatan tanaman dan
ketahanan inang.Timbulnya suatu penyakit juga tergantung pada sifat genetik
yang dimiliki oleh inang itu sendiri, terdapat inang yang rentan (suscept), tahan (resisten),
toleran (tolerant), kebal (immune)
yaitu tanaman yang tidak dapat diinfeksi oleh pathogen(Adinugroho, 2008).
2.3.2 Patogen
Yang dimaksud patogen adalah organisme hidup yang
mayoritas bersifat mikro dan mampu untuk dapat menimbulkan penyakit pada
tanaman atau tumbuhan. Mikroorganisme tersebut antara lain fungi, bakteri,
virus, nematoda mikoplasma, spiroplasma dan riketsia (Adinugroho, 2008).
2.3.3 Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan mempengaruhi timbul
dan berkembangnya penyakit. Beratnya intensitas penyakit pada suatu tanaman
seringkali ditentukan oleh lamanya keadaan lingkungan yang menguntungkan untuk
timbul dan berkembangnya penyakit. Seperti sudah diulas di atas lingkungan
dalam hal ini bisa dibedakan menjadi 2 yaitu lingkungan fisik/kimia dan
lingkungan biologi. Yang termasuk dalam lingkungan fisik/kimia yaitu suhu
udara, curah hujan (lama dan intensitas), embun (lama dan intensitas), suhu
tanah, kandungan air tanah, kesuburan tanah, angin, asal mula api, pencemaran
air, kerusakan akibat herbisida, dan lain-lain. Sedangkanlingkungan biologi
terdiri dari antagonis, vektor, agen penyebab luka, dan agen kompetitif(Utami
dan Anggraini, 2008:228).
2.3.4 Faktor Manusia
Manusia
dapat menjadi faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit tanaman. Dalah hal
tersebut, manusia secara sengaja merekayasake 3 faktor lain yang dapat
menyebabkan penyakit pada tanaman.Hal tersebut dikarenakan manusia dapat memberikan pengaruh
terhadap pathogen dan tanaman inang itu sendiri serta kondisi lingkungan
sebagai faktor-faktor yang dapat menimbulkan penyakit tanaman.
III. PEMBAHASAN
3.1 PENYAKIT TANAMAN DISEBABKAN OLEH
PERAN MANUSIA MERUBAH FAKTOR INANG : VARIETAS UNGGUL RENTAN HAMA WERENG
COKLAT
3.1.1 Terciptanya Varietas Unggul
Dalam tahun awal program intensifikasi pangan,
terutama padi, muncul permasalahan mengenai banyaknya varietas padi yang mudah
rebah, berumur panjang, dan rentan hama penyakit (Oka, 1998:106). Oleh karena
itu, dalam program Pelita I dan Pelita II, pemerintah menitik beratkan pada
pembangunan pertanian, yang diantaranya adalah meningkatkan produksi padi
melalui intensifikasi, terutama di daerah-daerah yang potensial tinggi yakni
di daerah-daerah sawah beririgasi (rinjawan.blogspot.com).
Pada Program yang diselenggarakan tahun
tersebut, Pemerintah menggunakan varietas Pelita I-1 dan Varietas Pelita I-2.
Selain varietas tersebut, pemerintah juga menggunakan varietas padi
Internasional, diantaranya adalah IR-5, IR-8, dan Padi unggul Filipina
C4-63.
3.1.2 Varietas Unggul Rentan Hama Wereng
Coklat
Varietas padi IR-5 dan IR-8 memiliki beberapa
kelebihan, diantaranya memiliki produktifitas yang tinggi (5,8 ton/hektar) dan
berumur genjah (rinjawan.blogspot.com). Sedangkan kelebihan dari varietas Pelita I-1 adalah
memiliki produktifitas yang mencapai 6 ton/hektar dan memiliki rasa yang pulen
(Suprihatno dan Deradjat, Tanpa Tahun).
Namun
demikian, menurut Oka (1998:106), varietas unggul tersebut rentan terhadap
penyakit, diantaranya adalah penyakit wereng coklat, penyakit virus tugro,
penyakit blas, dan beberapa penyakit lain. Selain itu, menurut (Harahap
dan Tjahjono, 1992:10) hama Wereng Coklat dapat menyebabkan tanaman padi mati
kekeringan dan tampak terbakar. Serangan wereng cokelat seringkali juga diikuti
oleh penyakit virus kerdil hampa (VKH) dan kerdil rumput (VKR), yang disebabkan
oleh virus yang ditularkan oleh wereng cokelat (rinjawan.blogspot.com).
Hama wereng coklat belum merupakan hama
yang berbahaya sebelum tahun 1970, namun sejak tahun 1970, hama tersebut
menjadi hama penting dan berbahaya, terutama pada varietas Pelita I-1, IR-5 dan
IR-8 yang diperkenalkan pada pelita I dan Pelita II (Harahap dan Tjahjono,
1992:10).
3.1.3 Penyebab Varietas Unggul Rentan
terhadap Hama Wereng Coklat
Varietas unggul Pelita I-1 dan Pelita I-2 serta
varietas IR-5 dan IR-8 menjadi rentan terhadap hama wereng coklat
dikarenakan varietas tersebut beranakan banyak serta ditanam pada jarak yang
rapat, sehinggga akan menyebabkan iklim mikro diantara rumput padi sangat
sesuai dengan habitat hama wereng coklat (Harahap dan Tjahjono, 1992:10).
Ketahanan varietas padi terhadap hama
wereng coklat juga ditentukan oleh faktor-faktor lain, yaitu, yaitu
faktor biokimia seperti nutrisi dan faktor biofisik seperti ketebalan jaringan
tanaman atau interaksi kedua faktor tersebut terhadap sel-sel reproduksi
sehingga mempengaruhi jumlah dan kualitas telur wereng coklat (Mugiono dan
Supena, Tanpa Tahun).
3.1.4 Solusi Pengendalian
Solusi pengendalian hama wereng coklat
terdapat beberapa cara, salah satunya adalah menerapkan pola tanam bergilir.
Hal tersebut dikarenakan tamananwereng coklat hanya dapat tubmuh pada
satu jenis inang, yaitu tanaman padi (Harahap dan Tjahjono, 1992:13).
Solusi lain adalah menerapkan varietas
yang tahan terhadap hama wereng coklat. Pembuatan Varietas unggul
dilakukan dengan cara menenerapan mutasi imbas untuk mendapatkan galur
mutan tahan wereng coklat. Beberapa galur mutan tahan penyakit dan hama
telah diperoleh dan dilepas sebagai varietas baru (Mugiono dan Supena,
Tanpa Tahun). Salah satu varietas padi yang tahan trerhadap hama wereng
coklat adalahvarietas IR-64.
…………………………
3.2 PENYAKIT TANAMAN DISEBABKAN OLEH
PERAN MANUSIA MERUBAH FAKTOR PATOGEN: PENGARUH HERBISIDA 2,4-D TERHADAP HAMA
PENGGEREK BATANG PADI
3.2.1 Tanaman Padi
Padi (Oryza sativa L) merupakan komoditi pangan yang
mendapat prioritas utama dalam pembangunan pertanian sebab merupakan bahan
makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia Untuk mengimbangi dan
mengatasi kebutuhan beras yang terus meningkat maka diperlukan upaya keras
dalam peningkatan produksi beras baik kualitas maupun kuantitas.
3.2.2 Herbisida 2,4 D
Salah
satu cara yang dilakukan adalah memberantas gulma dan tanaman liar menggunakan
herbisida. Herbisida adalah jenis pestisida yang berfungsi mencegah dan
membasmi tanaman yang merugikan petani seperti alang-alang dan rumput liar.
Contoh herbisidayang sering digunakan oleh para petani adalah herbisida jenis
2,4–D. (rinjawan.blogspot.com).
2,4-Dichlorophenoxyacetic
acid (2,4-D) adalah herbisida sistemik yang digunakan secara umum untuk
mengontrol gulma yang tumbuh dalam tanaman pertanian. Tidak hanya itu,
2,4-D dikenal sebagai salah satu jenis auksin sintetik yang penting (rinjawan.blogspot.com). Senyawa ini memiliki sifat yang selektif pada gulma,
sehingga dapat mematikan gulma tetapi tanaman pokok yang dibudidayakan tidak
terganggu.Senyawa 2,4-D sangat ampuh untuk membasmi gulma berdaun sempit pada
lahan persawahan (rinjawan.blogspot.com).
3.2.3 Penggerek Batang Padi
Salah
satu kendala yang dimiliki oleh tanaman padi adalah hama penggerek batang. Di
Indonesia telah dikenal berbagai jenis penggerek batang yaitu penggerek batang
padi kuning Scirpophaga incertulas Walker, penggerek batang padi putih
Scirpophaga innotata Walker penggerek batang merah jambu Sesamia inferens
Walker, Penggerek Batang padi bergaris Chilo suppressalis Walker, Penggerek
Batang padi berkepala hitam Chilo polychrysus Meyrick dan Penggerek Batang padi
berkilat Chilo auticilius Dudgeon. Di Sulawesi Selatan jenis yang paling
dominan adalah Scirpophaga innotata, sedang jenis yang lain pada umumnya dalam
keadaan minor (Misnahet et
al., Tanpa Tahun).
Salah
satu jenis penggerek batang padi yang sering ditemui adalah jenis Chilo supressalisatau lebih dikenal dengan nama “Penggerek Batang Padi
Bergaris”. Secara umum, hama tersebut memiliki fase hidup mulai dari
imago-telur-larva-pupa. Hama tersebut menyerang bagian malai sehingga
mengurani jumlah malai yang dipanen. Populasi Penggerek Batang Padi Bergaris
biasanya meningkat menjelang berakhirnya musim hujan (Harahap dan Tjahjono,
1992:22).
3.2.4 Pengaruh Herbisida 2,4 D terhadap
Perkembangan Hama Penggerek Batang Padi
Tujuan aplikasi pestisida kepada tanaman ialah
untuk membunuh hama sasaran. Golongan pestisida tertentu
seperti herbisidadimaksudkan untuk membunuh gulma. Namun demikian, terkadang
pengaplikasian herbisida berpengaruh pada peningkatan
hama. Menurut Zweep (dalam Oka, 1998:109), herbisida dapat berpengaruh
tidak langsung terhadap kerentanan/ketahanan pada hama penyakit tanaman.
Dalam
hal ini, adanya Herbisida 2,4-D berdampak negatif terhadap beberapa komponenen
ekosistem. Hirono (dalam Oka, 1998:110) menemukan bahwa bila penggerek
batang padi bergaris atau Chilosuppressalisyang berada pada habitat tanaman padi yang
diberi herbisida 2,4-D, maka beratbadan Chilo suppressalisakan meningkat 45% dari berat normal.
Bertambahnya
berat badan tersebutsecara tidak langsung akan meningkatkan daya resisten
hama Chilo
suppressalis terhadap pestisida tertentu. Sehingga
penyebaran penyakit tanaman oleh Penggerek Batang Padi akan
lebih mudah terjadi.
Penyakit
yang ditimbulkan oleh Penggerek Batang Padi berupa pemutusan
jalannya air dan unsur hara pada batang akibat gerekan hamaChilo suppressalis pada
bagian batang padi. Hal tersebut menyebabkan tanaman padi menjadi lemah
(Harahap dan Tjahjono, 1992:31)
…………………………..
3.3 PENYAKIT TANAMAN DISEBABKAN OLEH
PERAN MANUSIA MERUBAH FAKTOR LINGKUNGAN: PERTANIAN MONOKULTUR DAN
PENYEBARAHAN WABAH HAMA WERENG
3.3.1 Pertanian Monokultur
Pada era pertanan modern, sistem pertanian monokultur
sering digunakan. Ciri dari pertanian monokultur adalah berupa menanam spesies
tanaman yang sama untuk ditanam pada sebidang lahan tertentu. Pertanian
monokultur sering dilakukan pada tanaman budidaya pokok, seperti padi.
Alasan banyak petani padi menggunakan
pertanian monokultur dikarenakan oleh keinginan untuk memperoleh hasil yang
besar secara produktifitas. Lebih lanjut, pada pertanian monokultur padi, para
petani lebih sering menggunakan varietas yang berumur genjah dan ditanam sampai
tiga kali sampai lima kali dalam setahun (Oka, 1998:107).
3.3.2Pertanian Monokultur dan Penyebaran
Virus Tugro
Dengan sistem padi yang disebutkan
diatas, maka akan terdapat hamparan luas tanaman padi dalam semua tingkatan
umur, dari persemaian sampai dengan masa panen (Staggered planting).
Agroekosistem yang demikian, menurut Oka (1998:107) akan menyediakan makanan
yang terus menerus pada hama tertentu. Adanya makanan tersebbut akan
menyebabkan hama berkembang biak secara terus menerus dan pada suatu titik tertentu
akan mengakibatkan wabah .
Wabah
yang sering terjadi akibat sistem monokultur padi adalah wabah penyakit virus
tungro padi(Oka, 1998:107). Virus Tungro disebabkan oleh dua jenis
virus yang berbeda yaitu virus bentuk batang Rice Tungro Bacilliform Virus
(RTBV) dan virus bentuk bulat Rice Tungro Spherical Virus (RTSV). Virus tungro
hanya ditularkan oleh wereng hijau sebagai vektor. Penularan virus tungro dapat
terjadi apabila vektor memperoleh virus setelah mengisap tanaman yang
terinfeksi virus kemudian berpindah dan mengisap tanaman sehat tanpa melalui
periode laten dalam tubuh vektor (rinjawan.blogspot.com).
Penyebab lain yang menyebabkan pertanian
monokultur padi menjadi rentan terhadap penyakit tungro dikarenakan dengan
menggunakan pertanian monokultur, predator alami wereng (vektor virus tungro)
mati dan tidak dapat berkembang biak karena minimnya habitat dan
rendahnyakeberagaman ekosistem monokultur.
DAFTAR PUSTAKA
PUSTAKA BUKU
Adinugroho W.C. 2008. “Konsep Timbulnya
Penyakit Tanaman”. Tidak Diterbitkan. Tugas Kuliah. Sekolah Pascasarjana
Institut Pertanian Bogor (IPB).
Harahap & Tjahyono. 1992.
Pengendalian Hama Penyakit Padi. Jakarta: Penebar Swadaya.
Misnaheti, Baco D., Aisyah. (Tanpa Tahun).
Tren Perkembangan Batang Pada Tanaman di Sulawesi Selatan. Jurnal. Tanpa
Penerbit.
Mugiono, Supena P. (Tanpa Tahun)
Penampilan Sifat Biofisik Beberapa Mutan Padi Tahan Wereng Coklat. Jurnal.
Tanpa Penerbit.
Oka Ida N. 1998. Pengendalian Hama
Terpadu. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Purnomo, B. 2006. Dasar-dasar
Perlindungan Tanaman, (Tanpa Penerbit)
Rozakurniati. 2010. Varietas Padi Tahan
Wereng Cokelat. Jurnal. SINAR TANI Edisi 27 Oktober– 2 November 2010.
PUSTAKA INTERNET
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan Komentarnya